Indeks saham bahan baku atau IDX Basic Materials mengalami tekanan berat di pasar modal Indonesia.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks ini sudah menyusut 24,20% secara year to date (ytd) ke posisi 1.560,126 hingga Selasa (9/6/2026).

>>> OJK: 118 Perusahaan Asuransi Penuhi Ekuitas Minimum Tahap Pertama

Dalam sebulan terakhir, indeks sektoral ini turun hingga 22,72%. Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, mengatakan kemerosotan itu dipengaruhi sejumlah sentimen negatif.

Sentimen tersebut meliputi penataan ulang portofolio MSCI-FTSE, penurunan proyeksi Indonesia oleh lembaga rating kredit dunia, dan melemahnya keyakinan investor pada pasar saham domestik.

Menurut Ekky, tekanan bukan hanya dari faktor fundamental, tetapi kombinasi outflow asing, risk off pasar, dan naiknya regulatory risk premium.

Saham TPIA dan BRPT Tertekan

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa anjloknya harga saham TPIA (-72,56%) dan BRPT (-47,96%) sejak awal tahun turut menekan kinerja IDX Basic Materials.

Kedua emiten itu memiliki bobot terbesar di indeks sektoral ini.

Pergerakan dua saham raksasa itu terbebani oleh penghapusan dari indeks MSCI dan masalah konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.

Selain itu, kebijakan satu pintu untuk ekspor sumber daya alam dan patokan harga mineral baru menekan proyeksi profit emiten tambang.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.000 per dolar AS juga meningkatkan biaya impor bahan baku.

Wafi menilai MSCI atau FTSE menjadi pemicu, tetapi country risk premium yang melebar adalah penyebab strukturalnya.

>>> Chatib Basri Bantah Isu Tawaran Jabatan Menteri Keuangan

Peluang Pemulihan dan Rekomendasi Saham

Wafi melihat peluang perbaikan kinerja indeks masih ada, meskipun tidak merata di semua emiten.