Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) Djagad Prakasa Dwialam memberikan klarifikasi dengan memetakan segmentasi produk dari generik, generik bermerek, hingga produk paten.

Ia mencontohkan obat Rosuvastatin dosis 20 miligram versi generik dijual Rp3.000–Rp6.000 per tablet, versi generik bermerek Kimia Farma seharga Rp12.000, sedangkan produk originator multinasional mencapai Rp36.000 per tablet.

"Terus persepsi harga mahal, murah itu dari mana datangnya? Harus diakui, kalau bicara branded, yang itu Crestor-nya misalnya atau Lipitor-nya, harga jenisnya lebih mahal.

Tapi kalau bicara obat Rosuvastatin, generik Indonesia termasuk yang paling murah di dunia," jelas Djagad.

Djagad menyatakan disparitas harga dengan Malaysia terjadi akibat kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di Indonesia, sementara negara tetangga menerapkan pembebasan pajak untuk produk farmasi.

>>> OJK Catat Pembiayaan Kendaraan Multifinance Naik Jadi Rp290 Triliun

"Kalau dibandingkan Malaysia, salah satu faktornya memang masalah pajak. Di Malaysia itu dibebaskan dari VAT-nya (Value Added Tax), sementara di Indonesia masih dikenakan," terang Djagad.