Orang mungkin menunda membeli rumah, tetapi mereka tidak akan berhenti membutuhkan tempat tinggal.

Karena itu, sektor perumahan memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat dibandingkan sektor-sektor yang sangat bergantung pada ekspor atau impor.

Bahkan dalam banyak kasus, properti justru menjadi instrumen perlindungan nilai ketika mata uang melemah.

Tanah dan rumah merupakan aset riil yang cenderung mampu menjaga nilainya dalam jangka panjang dibandingkan uang tunai yang tergerus inflasi.

Pelemahan rupiah memang menambah tantangan bagi sektor perumahan Indonesia. Namun tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi ambisi pembangunan rumah rakyat.

Sebaliknya, kondisi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat industri konstruksi nasional, memperluas pembiayaan perumahan, serta meningkatkan efisiensi pembangunan.

Jika langkah-langkah tersebut dilakukan secara konsisten, sektor perumahan tidak hanya mampu bertahan di tengah turbulensi ekonomi, tetapi juga dapat menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia ketika sektor lain sedang melambat.

>>> Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,50 Persen, Perkuat Rupiah

Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, membangun rumah rakyat bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi strategis untuk masa depan bangsa.