Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat merupakan peringatan bagi seluruh sektor ekonomi nasional.

Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada dampaknya terhadap pasar keuangan, utang luar negeri, atau harga barang impor.

>>> Veda Ega Pratama Rindu Soto dan Bakso Selama Balapan di Eropa

Padahal ada satu sektor yang juga sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar, yakni sektor properti perumahan. Sektor perumahan memiliki posisi yang unik dalam perekonomian Indonesia.

Di satu sisi, rumah merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

Di sisi lain, pembangunan perumahan menjadi penggerak ekonomi yang melibatkan ratusan industri pendukung, mulai dari semen, baja, keramik, kaca, cat, furnitur, perbankan, hingga jasa konstruksi.

Real Estate Indonesia (REI) menyebut sektor properti memiliki keterkaitan dengan lebih dari 180 subsektor ekonomi. Setiap perlambatan di sektor ini akan berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, tekanan terhadap rupiah tidak boleh dilihat hanya sebagai persoalan moneter.

Pelemahan mata uang nasional dapat berpengaruh langsung terhadap kemampuan masyarakat membeli rumah, kemampuan pengembang membangun rumah, bahkan kemampuan pemerintah menjalankan program perumahan rakyat.

Dampak Pertama: Kenaikan Biaya Pembangunan

Dampak pertama adalah kenaikan biaya pembangunan. Memang benar sebagian besar bahan bangunan diproduksi di dalam negeri.

Namun industri konstruksi Indonesia masih bergantung pada berbagai komponen impor seperti alat berat, elevator, sistem mekanikal dan elektrikal, baja khusus, aluminium tertentu, serta berbagai teknologi konstruksi yang menggunakan komponen dari luar negeri.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, seluruh komponen tersebut menjadi lebih mahal.

Pengembang akhirnya menghadapi kenaikan biaya produksi yang tidak sedikit. Dalam kondisi normal, kenaikan biaya dapat diteruskan ke harga jual rumah.