Langkah otoritas memberikan ruang pergerakan yield juga dinilai membantu efektivitas kebijakan Bank Indonesia yang sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan.

"Pasar saat ini tidak hanya memperhatikan tingkat bunga.

Investor ingin melihat kejelasan arah fiskal, keberlanjutan APBN, strategi pembiayaan pemerintah, serta komitmen menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang," tegas Fakhrul.

Pemerintah disarankan melakukan penyesuaian dan transformasi program belanja negara, termasuk mengevaluasi implementasi program Makan Bergizi Gratis.

"Kondisi ekonomi saat ini bukanlah saat untuk mempertahankan seluruh kebijakan dalam bentuk awalnya, melainkan saat untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan agar fondasi pertumbuhan ke depan menjadi lebih kuat," kata Fakhrul.

Kombinasi antara normalisasi yield obligasi, perbaikan kurva imbal hasil, stabilisasi rupiah, serta penyesuaian fiskal yang kredibel diproyeksikan menjadi fondasi penting untuk mengembalikan arus modal masuk.

"Jika proses yield curve repairment ini terus berjalan dan dibarengi dengan komunikasi fiskal yang kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menjadi tujuan investasi yang menarik di kawasan.

>>> Kemensos Salurkan PKH dan BPNT Juni 2026, Cek Status YA di Cek Bansos

Pada akhirnya investor tidak mencari yield yang rendah. Investor mencari negara yang kredibel, pasar yang berfungsi, dan kebijakan yang konsisten," pungkas Fakhrul.