EKS merupakan sistem satelit militer Rusia yang dirancang khusus untuk mendeteksi peluncuran rudal berbahaya. Sistem pertahanan ini juga berfungsi memantau ledakan nuklir di seluruh penjuru dunia.

Satelit EKS pertama kali meluncur ke luar angkasa pada tahun 2019. Tepat pada tahun yang sama, gangguan GPS wilayah luas untuk pertama kalinya tercatat oleh sistem pemantauan darat.

Gangguan awal tersebut terdeteksi pada Oktober 2019, sebulan setelah peluncuran satelit EKS pertama. Tiga satelit EKS yang teridentifikasi sebagai sumber gangguan berasal dari seri Tundra.

Satelit militer seri Tundra ini beredar di orbit khusus yang disebut Molniya. Dalam bahasa Rusia, kata Molniya memiliki arti petir yang menggambarkan karakteristik pergerakan orbitnya.

Untuk mendeteksi sumber gangguan, para peneliti membangun kerangka kerja khusus berbasis data. Mereka memanfaatkan jaringan 165 stasiun referensi GPS yang tersebar di seluruh benua Eropa.

Karakteristik teknis sinyal gangguan yang ditemukan membuat hasil penelitian ini semakin meyakinkan. Sinyal pengganggu tersebut ditemukan tidak berada tepat di frekuensi utama GPS L1.

Pusat sinyal pengganggu berada di frekuensi 1577,5 MHz, sekitar 2 MHz di atas frekuensi pusat GPS L1.

>>> Jensen Huang Sesali Jual Saham Nvidia Demi Belikan Orang Tua Mobil

Penggeseran frekuensi ini dinilai bukan merupakan sebuah kebetulan teknis.

Menurut Humphreys, penggeseran ini kemungkinan merupakan upaya sengaja untuk menguji kemampuan jamming tanpa mudah terdeteksi. Strategi tersebut membuat deteksi awal menjadi lebih sulit dilakukan.

Tim Humphreys juga menemukan satelit Rusia yang sama telah mengganggu sistem navigasi Bei Dou milik China. Aktivitas interferensi terhadap sistem navigasi China ini terdeteksi sejak Juni 2020.

Gangguan terhadap sistem navigasi asal Asia tersebut dilakukan dengan cara yang nyaris identik. Pola pengondisian sinyal pengganggu menunjukkan kesamaan arsitektur teknologi yang digunakan.