Kinerja ekspor China mencatat lonjakan signifikan pada Mei 2026. Nilai pengiriman barang menembus rekor tertinggi baru dengan mencapai US$ 376,78 miliar.

Pertumbuhan tersebut mencapai 19,4% secara tahunan. Angka ini jauh di atas perkiraan pasar yang memproyeksikan kenaikan 15%.

>>> Philippine Airlines Rencanakan Pesan 20 Pesawat Berbadan Lebar Baru

Lonjakan pada Mei 2026 menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak Februari.

Tren positif ini terjadi seiring langkah korporasi memperkuat persediaan barang untuk mengantisipasi gejolak harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data lima bulan pertama tahun 2026, total ekspor China masih membukukan kenaikan 15,5% secara tahunan menjadi US$ 1,71 triliun.

Selama periode ini, pengiriman barang ke negara-negara ASEAN meningkat 20,3%.

Peningkatan ekspor juga tercatat ke Uni Eropa sebesar 16,4%, Hong Kong melonjak 45,5%, Korea Selatan tumbuh 28,5%, dan Jepang meningkat 7,1%.

Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat justru turun 2,7%.

Impor China Juga Melonjak

Aktivitas impor China juga mengalami lonjakan 27,4% secara tahunan menjadi US$ 271,35 miliar pada Mei 2026.

>>> Asuransi Asei Petakan Faktor Pengaruh Kinerja Investasi 2026

Angka ini melampaui estimasi pasar di level 25%.

Kenaikan ini menandai pertumbuhan pembelian luar negeri selama 12 bulan berturut-turut.

Penguatan impor ditopang oleh tingginya permintaan domestik, meskipun terdapat tekanan inflasi dari gangguan rantai pasok dan biaya energi akibat situasi di Timur Tengah.

Sepanjang semester pertama 2026, nilai impor melonjak 24,5% menjadi US$ 1.261,69 miliar.

Kenaikan tersebut digerakkan oleh permintaan dari ASEAN sebesar 21,0%, Uni Eropa 8,6%, Jepang 27,8%, Hong Kong 173,2%, dan Korea Selatan 56,5%, sedangkan impor dari AS melemah 5,5%.

Dari sisi komoditas, impor peralatan pengolahan data melonjak pesat 65,1%. Pembelian semikonduktor dan sirkuit terpadu masing-masing naik 11,5% dan 52,1%.

Kenaikan volume impor juga terjadi pada minyak nabati 24,2%, bijih tembaga 36,7%, minyak olahan 6,74%, logam tanah jarang 40,6%, dan tembaga mentah 26,1%.

>>> Tim Cook Pamit di WWDC 2026, John Ternus Jadi CEO Apple September

Namun, impor gas alam turun 10,1%, batubara 2,9%, dan baja 8,5%.