Di sisi lain, risikonya adalah potensi tambahan biaya kepatuhan dan meningkatnya ketidakpastian jika implementasi regulasinya berubah-ubah.

“Bagi emiten minerba, dampak jangka pendek kemungkinan terbatas karena harga komoditas global tetap menjadi faktor utama,” imbuh dia, Senin (8/6/2026).

Terlepas dari itu, lanjut Arinda, prospek kinerja emiten minerba pada 2026 masih cukup positif, terutama untuk komoditas yang terkait hilirisasi dan transisi energi seperti nikel, tembaga, dan emas.

>>> Menteri ESDM Akan Relaksasi Kuota Produksi Batu Bara 2026

Namun, rencana pengoperasian Bursa Mineral jelas akan menambah daftar faktor regulasi yang perlu dicermati investor.

Senada, Wafi memandang prospek sektor pertambangan minerba sebenarnya masih menarik, namun makin kompleks dari sisi regulasi.

Ini mengingat, sentimen terkait perubahan regulasi sudah cukup banyak sejak awal tahun.

Mulai dari pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), penetapan Harga Patokan Mineral (HPM) baru, pembentukan DSI dan Bursa Mineral, hingga kebijakan pajak dan tarif karbon yang diterapkan Uni Eropa.

Risiko tambahan bagi emiten-emiten di sektor ini adalah potensi perluasan komoditas SDA yang wajib ekspor melalui DSI serta country risk discount seiring gejolak pasar saham akhir-akhir ini.

Menurut Wafi, emiten minerba yang tahan banting terhadap risiko perubahan regulasi biasanya memiliki tiga karakter.

Pertama, kemampuan untuk memperoleh persetujuan RKAB sebelum musim produksi.

Kedua, punya integrasi vertikal ke produk bernilai tambah untuk mengurangi eksposur regulasi ekspor bahan mentah.

Ketiga, punya neraca kuat dengan arus kas bersih dan rasio utang rendah.

“Arus kas bersih dan DER rendah penting untuk menyerap biaya kepatuhan (compliance cost) tanpa ganggu operasional,” tutur dia.

Dari sekian emiten produsen minerba, Wafi menyebut saham AADI, ANTM, PTBA, dan ADRO layak dipertimbangkan oleh investor.

Di lain pihak, Arinda menyebut, emiten-emiten minerba perlu memperkuat efisiensi biaya, menjaga neraca keuangan tetap sehat, memperluas jangkauan pasar, serta mempercepat hilirisasi.

Hal itu untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas.

“Emiten yang berpotensi raih kinerja positif umumnya memiliki biaya produksi rendah, cadangan besar, posisi kas kuat, serta bisnis yang terintegrasi dari tambang hingga fasilitas pengolahan,” ungkap dia.

>>> Orangtua Wajib Cermati Komposisi Utama Guna Memilih Susu Formula Anak

Arinda menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham MBMA dan ADMR dengan target harga masing-masing di level Rp 800 per saham dan Rp 2.100 per saham.