Langkah ini disusul Dolar Selandia Baru (NZD) yang bertransaksi di posisi US$0,5804.

Di sisi lain, Yuan China (offshore) bergerak mendatar di level 6,7857 per dolar AS sembari menanti rilis data perdagangan luar negeri China.

>>> IHSG Ambles 4,52 Persen, Asing Catat Net Sell Rp587 Miliar pada 8 Juni 2026

Yen Jepang Sentuh Batas Kritis Intervensi

Sorotan utama tertuju pada mata uang Yen Jepang yang melemah hingga menyentuh posisi 160,295 per dolar AS.

Level 160 ini secara luas dipandang oleh para pelaku pasar sebagai titik kritis psikologis.

Posisi tersebut dapat memicu otoritas moneter Jepang, yaitu Kementerian Keuangan dan Bank Sentral Jepang, untuk melakukan intervensi pasar secara agresif.

Langkah ini diperlukan guna menahan kejatuhan Yen lebih dalam.

Adapun Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, bergerak stabil di posisi 100,03.

Angka ini sangat dekat dengan rekor tertinggi dua bulannya di level 100,21 yang tersentuh pada hari Senin kemarin.

Fokus Pasar Terhadap Data Inflasi IHK AS

Pelaku pasar global kini mengalihkan fokus penuh pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dijadwalkan pada hari Rabu esok.

Data ini menjadi kompas penting untuk menebak arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Berdasarkan indikator CME FedWatch, para pelaku pasar berjangka kini melihat adanya probabilitas sebesar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember 2026.

Prediksi ini menguat setelah laporan ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls) Mei melonjak drastis di luar ekspektasi.

"Datang tepat setelah rilis data ketenagakerjaan hari Jumat yang sangat kokoh, angka inflasi (CPI) yang lebih tinggi dari perkiraan dipastikan akan menambah kekhawatiran pasar terkait potensi kenaikan suku bunga Fed sebelum akhir tahun," kata Tony Sycamore, analis pasar di IG.

Sycamore menambahkan, skenario inflasi yang memanas ini akan memberikan suntikan tenaga baru bagi penguatan dolar AS.

Dampak lainnya adalah memberikan tekanan turun (downward pressure) yang berat bagi pasar saham Wall Street.

Di belahan dunia lain, Bank Sentral Eropa (ECB) juga diperkirakan luas akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuan pada pekan ini.

>>> Aturan Baru BPJS Kesehatan: Pasien Kontrol Dilarang Datang Lebih Awal

Langkah pengetatan moneter ini terpaksa diambil untuk menyeimbangkan lonjakan inflasi sektor energi di tengah melandainya pertumbuhan ekonomi Eropa.