Nilai tukar dolar AS (greenback) bertahan kokoh di dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Penguatan ini terjadi secara meluas terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

>>> Museum Virtual Sediakan Ribuan Sistem Operasi Lawas Siap Unduh

Kondisi tersebut dipicu oleh ketidakpastian politik di Timur Tengah yang mengikis minat investor terhadap aset berisiko.

Selain itu, pasar mengantisipasi meningkatnya taruhan bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

Meskipun Iran dan Israel sepakat menghentikan sementara aksi saling serang pada Senin (8/6/2026) setelah seruan Presiden Donald Trump, situasi di lapangan tetap mencekam.

Teheran mengancam akan kembali meluncurkan rudal jika Israel terus menggempur basis Hezbollah di Lebanon.

Belum adanya perkembangan signifikan dari diplomasi AS untuk menyusun perjanjian damai permanen atas perang yang telah berlangsung tiga bulan ini menjaga harga minyak tetap tinggi.

Hal ini sekaligus mengalirkan dana investasi ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

"Jika kita bicara soal gagasan perjanjian damai atau gencatan senjata... apa yang sebenarnya telah dicapai dalam beberapa minggu terakhir?

Tidak banyak," ujar Rodrigo Catril, Strategis Valas Senior di National Australia Bank (NAB) dilansir Reuters.

"Dolar menguat bukan hanya karena ketidakpastian ini, tetapi juga karena ditopang oleh solidnya data ekonomi domestik AS."

Tekanan dari keperkasaan dolar AS membuat mata uang negara maju dan berkembang bergerak di zona merah sepanjang sesi perdagangan Asia hari Selasa.

Euro tertahan di level US$1,1528, sedangkan Poundsterling berada di posisi US$1,3335, di mana keduanya melemah sekitar 0,05%.

Sementara itu, Dolar Australia (AUD) yang sensitif terhadap risiko anjlok 0,1% ke level US$0,7039.