Orang tua diimbau untuk lebih waspada terhadap asupan gula berlebih pada anak yang dapat bersumber dari konsumsi susu formula.

Selain memicu masalah fisik seperti karies gigi dan obesitas, tingginya konsumsi gula juga berisiko menurunkan kemampuan kognitif serta perkembangan bahasa anak.

>>> PT Bangun Kosambi Sukses Tbk Bagikan Dividen Tunai Rp 28,34 Miliar

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia, Prof DR dr Rini Sekartini, SpA (K), mengingatkan agar orang tua lebih cermat dalam memeriksa label informasi nilai gizi pada produk nutrisi anak.

"Selama ini, banyak orang tua cenderung fokus pada kandungan tambahan seperti AHA, DHA, Omega-3, dan Omega-6, padahal komposisi utama penting untuk dipahami," kata Prof Rini dalam peluncuran AceKid di Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa kandungan yang tercantum pertama dalam urutan komposisi menunjukkan komponen terbesar dalam suatu produk.

Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan kualitas sumber bahan, proses produksi, serta ada atau tidaknya tambahan seperti gula atau pemanis tertentu.

Dampak buruk dari pemberian gula berlebih selama masa pertumbuhan dapat memengaruhi berbagai aspek penting perkembangan anak.

Risiko ini mencakup gangguan pada sistem saraf pusat yang mengatur kemampuan belajar.

"Konsumsi makanan dan minuman manis berlebih pada anak akan berhubungan dengan gangguan perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik anak," ujar Prof Rini.

Masalah tersebut terjadi karena produk minuman yang terlalu manis dapat memicu ketidakseimbangan metabolisme tubuh sejak usia dini.

Kondisi ini kemudian berdampak langsung pada kinerja organ vital termasuk otak.

"Lonjakan gula darah dan resistensi insulin ini akan memengaruhi fungsi otak, memori, kemampuan belajar, dan perilaku anak," ungkap Prof Rini.