Masyarakat Jawa akan memasuki Malam 1 Suro pada Selasa malam, 16 Juni 2026. Momen tersebut menandai pergantian tahun baru Jawa dan bertepatan dengan datangnya 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Dalam tradisi Jawa, pergantian hari dimulai setelah matahari terbenam. Karena itu, rangkaian peringatan sudah berlangsung sejak Selasa petang sebelum memasuki Rabu, 17 Juni 2026 yang tercatat sebagai 1 Suro 1960 dalam penanggalan Jawa.

Bagi banyak masyarakat Jawa, malam tersebut bukan sekadar pergantian tahun. Waktu itu kerap digunakan untuk berdoa, melakukan perenungan, serta memohon keselamatan untuk menjalani tahun yang baru.

Awal Mula Tradisi Malam 1 Suro

Penetapan bulan Suro berkaitan dengan kebijakan Sultan Agung Mataram pada abad ke-17 yang menyelaraskan sistem penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah. Dari perpaduan itu lahir tradisi yang menggabungkan unsur budaya Jawa dan nilai-nilai Islam.

Sejak saat itu, bulan Suro identik dengan laku batin. Suasananya lebih banyak diisi kegiatan yang bersifat reflektif dibandingkan perayaan yang meriah.

>>> Komdigi Batasi Akses Anak di Bawah 16 Tahun pada Platform Risiko Tinggi

Ritual yang Kerap Digelar Saat Malam 1 Suro

Di Surakarta, peringatan Malam 1 Suro identik dengan Kirab Pusaka Keraton. Dalam prosesi tersebut, berbagai pusaka keraton diarak oleh abdi dalem yang mengenakan pakaian adat. Kirab biasanya turut menghadirkan Kebo Bule yang memiliki posisi khusus dalam tradisi keraton.

Sementara itu, di Yogyakarta terdapat tradisi mubeng beteng atau tapa bisu. Peserta berjalan mengelilingi kawasan benteng keraton tanpa berbicara dan tanpa alas kaki sebagai bentuk pengendalian diri serta perenungan.

Selain kirab, sejumlah masyarakat menjalankan tirakatan semalam suntuk. Ada pula yang mengisi malam tersebut dengan pengajian, pembacaan shalawat, hingga doa bersama.