Ziarah ke makam keluarga maupun leluhur juga menjadi kegiatan yang banyak dilakukan menjelang atau saat Malam 1 Suro. Tradisi ini dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu sekaligus sarana mendoakan mereka.

Di wilayah pesisir, sejumlah daerah masih mempertahankan upacara labuhan atau pelarungan sesaji. Ritual tersebut umumnya dilakukan sebagai ungkapan harapan agar para nelayan memperoleh keselamatan dan hasil tangkapan yang baik.

Ada pula tradisi gunungan hasil bumi yang berisi aneka sayuran, buah-buahan, serta makanan tradisional. Setelah didoakan, isi gunungan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diperoleh.

Makna yang Tetap Dijaga

Meski kehidupan masyarakat terus berubah, berbagai tradisi Malam 1 Suro masih bertahan di banyak daerah. Sebagian keluarga memilih mengikuti kegiatan adat, sementara yang lain menjalani malam tersebut dengan berdiam di rumah untuk berdoa dan melakukan refleksi pribadi.

Bagi masyarakat Jawa, Malam 1 Suro menjadi pengingat untuk menjalani kehidupan dengan sikap eling lan waspada, yakni selalu ingat kepada Tuhan sekaligus berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan.