Eksekusi transformasi menghasilkan pendapatan sepanjang tahun 2025 sebesar Rp 146,74 triliun.

Rekam kinerja lainnya ditunjukkan lewat pencapaian EBITDA Rp 72,24 triliun dan net income sebesar Rp 17,81 triliun.

Perseroan melakukan percepatan depresiasi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset. Kebijakan finansial ini berdampak pada terjadinya kontraksi net income perusahaan.

Dampak depresiasi tersebut bersifat non-cash sehingga secara operasional fundamental bisnis tetap terjaga. Kondisi arus kas perusahaan juga dilaporkan tetap kuat.

Penyederhanaan portofolio bisnis dijalankan pada aspek Streamlining melalui divestasi non core. Telkom memilih fokus kembali ke bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Sebanyak enam entitas bisnis telah dirampingkan oleh manajemen. Salah satunya adalah transaksi divestasi AdMedika Group yang berhasil diselesaikan pada (2/6).

Monetisasi aset infrastruktur dimulai pada sisi Unlocking Value lewat tindakan spin-off aset. Bisnis wholesale fiber connectivity dialihkan ke InfraNexia dengan target rampung pada kuartal ketiga.

Perusahaan membuka kembali inisiatif kemitraan strategis untuk bisnis data center. Langkah ini berjalan beriringan dengan transisi menuju model HoldCo-OpCo pada aspek Modus-operandi shift.

Sistem pelaporan berbasis segmen mulai diterapkan untuk mendongkrak transparansi serta akuntabilitas kinerja. Tahun 2025 menjadi fase krusial dalam memperkuat struktur bisnis demi pertumbuhan jangka panjang.

"Keputusan-keputusan yang diambil dalam RUPST ini mencerminkan komitmen Telkom untuk terus meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai tambah.

>>> Profil Nadya Naufel yang Resmi Menikah dengan Alex Abbad Usai Bersahabat 16 Tahun, Lengkap: Umur, Agama dan IG

Tahun ini, kami melakukan percepatan dalam eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara disiplin dan terukur, serta memastikan setiap langkah yang diambil mampu berkontribusi dalam membangun ekosistem digital nasional yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing global," kata Dian.