Sitanggang dalam BIG Strategic Forum 2026 pada Senin (8/6/2026).

Dari sisi teknik, studi tersebut menyimpulkan bahwa sepeda motor listrik pada dasarnya telah mampu memenuhi kebutuhan operasional kurir perkotaan.

Hasil benchmarking menunjukkan rata-rata jarak tempuh maksimum mencapai 82 kilometer dalam kondisi baterai penuh.

Untuk kurir 3PL, kemampuan tersebut dinilai cukup untuk menunjang aktivitas harian, sedangkan kurir pengiriman instan membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya atau skema tukar baterai guna meminimalkan waktu henti operasional.

Secara ekonomi, total biaya kepemilikan atau total cost of ownership (TCO) sepeda motor listrik juga lebih kompetitif.

>>> 14 Kebiasaan Digital yang Merusak Perangkat dan Mengancam Data, Segera Hentikan

Dengan asumsi masa kepemilikan 5 tahun, biaya operasional kendaraan listrik rata-rata 27% lebih rendah dibandingkan sepeda motor bensin.

Menurutnya, penghematan yang dihasilkan berkisar Rp150 hingga Rp395 per kilometer atau setara sekitar Rp11 miliar apabila diterapkan pada 1.000 kendaraan.

Meski demikian, keuntungan operasional tersebut belum cukup kuat untuk mendorong adopsi secara masif.

Studi menemukan bahwa mayoritas kurir telah memiliki sepeda motor bensin yang lunas sehingga harus menanggung biaya tambahan apabila beralih ke kendaraan listrik.

Kesenjangan pembiayaan diperkirakan masih berada pada kisaran Rp15 juta hingga Rp23 juta per kendaraan sehingga diperlukan intervensi berupa subsidi, dukungan pembiayaan murah, maupun program tukar tambah kendaraan.

Dari perspektif logistik hijau, manfaat ekonominya tidak hanya berasal dari penghematan biaya operasional.

Transisi 1.000 sepeda motor logistik ke kendaraan listrik berpotensi mengurangi emisi karbon antara 174 ton hingga 644 ton CO2 ekuivalen per tahun, dengan nilai ekonomi pengurangan emisi mencapai Rp99 juta hingga Rp365 juta per tahun.