Bagi industri yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global, tren kenaikan beban fiskal secara berulang menciptakan ketidakpastian.

Investor tidak hanya melihat besaran biaya saat ini, tetapi juga arah kebijakan ke depan. Ketika persepsi yang muncul adalah bahwa beban akan terus meningkat, keputusan investasi menjadi tertahan.

Perubahan kebijakan RKAB dari tiga tahun menjadi satu tahun semakin memperkuat ketidakpastian. Dalam industri yang membutuhkan perencanaan jangka panjang, kepastian horizon produksi sangat krusial.

Dengan horizon yang dipersingkat, kemampuan perusahaan untuk merencanakan investasi, mengoptimalkan alat produksi, dan menjaga efisiensi menjadi terganggu.

Fleksibilitas jangka pendek mungkin meningkat, tetapi stabilitas jangka menengah dan panjang justru melemah.

Situasi ini diperburuk dengan kecenderungan penurunan produksi yang disetujui dalam RKAB. Ketika produksi tidak tumbuh optimal, skala ekonomi menurun, biaya per unit meningkat, dan daya saing global melemah.

Dalam pasar internasional yang sangat kompetitif, efisiensi skala bukan pilihan, melainkan keharusan. Tanpa itu, posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama di sektor pertambangan berisiko tergerus.

Risiko Skema Gross Split

Kekhawatiran paling besar muncul dari wacana simplifikasi ke skema gross split untuk sektor minerba. Secara konsep, penyederhanaan memang terlihat menarik.

Namun pendekatan ini berisiko mengabaikan perbedaan fundamental antara sektor pertambangan dan minyak dan gas.

Pertambangan memiliki karakter investasi jangka panjang, padat modal, serta risiko operasional tinggi pada fase awal.

Penerapan skema yang terlalu kaku tanpa fleksibilitas dalam pengelolaan biaya berpotensi menurunkan daya tarik investasi secara signifikan. Bagi investor, yang dipertimbangkan bukan hanya return, tetapi juga kepastian.

Ketika kebijakan berubah berturut-turut—royalti naik, horizon RKAB berubah, produksi ditekan, dan skema fiskal dirombak—maka yang tercipta adalah persepsi bahwa arah kebijakan belum stabil.