Bahaya Penggunaan Kosmetik Berlebih pada Kulit Anak

Dermatolog konsultan Dr. Jean Ayer menjelaskan bahwa kulit anak-anak sebenarnya dalam kondisi prima tanpa perlu intervensi kosmetik berat.

"Ironisnya, mereka sudah memiliki kulit sempurna. Saat kecil, kondisi kulit berada dalam keadaan terbaiknya," ujarnya.

Mayoritas produk populer saat ini dirancang untuk memperlambat penuaan sehingga tidak cocok untuk anak-anak. "Pada kondisi terbaik, mereka tidak memerlukan produk tersebut.

Pada kondisi terburuk, kandungannya bisa merusak kulit sensitif anak," kata dr. Ayer.

Dalam praktiknya, Ayer semakin sering menangani kasus anak-anak dengan jerawat, dermatitis kontak, hingga iritasi akibat kosmetik berlapis.

Retinol menjadi perhatian serius karena siklus pergantian sel kulit anak sudah cepat secara alami, sehingga retinol tidak memberikan manfaat positif.

Sebaliknya, retinol berisiko memicu efek terbakar atau retinol burn yang merusak lapisan pelindung kulit, menyebabkan ruam merah, dan sensitivitas jangka panjang.

Dampak Negatif pada Kesehatan Mental

Selain kesehatan fisik, cosmeticorexia juga berdampak buruk pada psikologis anak.

Psikolog Alberto Stefana mengungkapkan bahwa banyak anak mengukur harga diri dari jumlah suka atau komentar di media sosial.

Menurut Stefana, kecenderungan membandingkan diri dengan figur di dunia maya dapat menumbuhkan rasa malu dan kecemasan emosional.

>>> Madu 3.000 Tahun di Makam Mesir Masih Layak Konsumsi

Indikasi awal juga menunjukkan keterkaitan antara cosmeticorexia dengan body dysmorphic disorder (BDD), gangguan mental yang memicu ketidakpuasan kronis terhadap penampilan.