"Jelas ini ada pemicunya, tapi juga ada provokator dan sentimen negatif yang terjadi di jalan.

Tidak lepas juga banyak orang ter-influence oleh social media yang tujuannya mengaburkan perspektif literasi," kata Erreza Hardian, anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara IMI pada Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Erreza, kondisi fisik dan mental pengendara yang tidak siap berkendara sering kali membuat emosi mudah tersulut hanya karena senggolan kecil.

"Mungkin juga mereka lapar dan algoritmanya sudah akan mudah memicu emosi. Ada provokator saja akan menjadi pemicu.

Banyak orang sedang tidak baik-baik di jalan," ujar Erreza Hardian.

>>> Kawasaki Siap Luncurkan Motor Baru di Jakarta Fair 2026, Diduga Skutik Brusky 125

Guna meredam emosi saat menghadapi situasi negatif di jalan raya, pengendara disarankan untuk melakukan teknik pengaturan napas demi menjaga ketenangan.

"Stur saja penapasan seperti kata psikolog Rosdiana Setyaningrum. Pola napas dengan segi 4.

Tarik napas dengan hitungan segi 4 bayangin bentuk kubus. Hembuskan atau keluarkan dengan metode yang sama.

Ini untuk meredam emosi ketika ada respon negatif setelah kita alami," katanya.

Erreza juga menambahkan bahwa menyikapi respons negatif dari pengguna jalan lain dengan senyuman dan permohonan maaf jauh lebih efektif untuk menghindari eskalasi konflik.

"Orang lain emosi tanggapi dengan senyum dan jangan dilawan. Batu itu akan kalah oleh kertas di suit Jepang.

Gunakan kata maaf ketika respon orang negatif kepada kita sebagai pengemudi yang lebih beretika di jalan," sambungnya.

Lebih lanjut, pengguna mobil diminta lebih bijak menghadapi pesepeda motor yang secara fisik memiliki risiko kecelakaan lebih tinggi dan tingkat kenyamanan yang lebih rendah.