Kebutuhan bijih nikel tipe saprolite pada 2026 diperkirakan mencapai 220 juta hingga 240 juta ton, sedangkan kebutuhan limonit diprediksi 120 juta ton.

Perhapi mendesak pemerintah mempertimbangkan spesifikasi bijih dan kapasitas seluruh smelter yang beroperasi dalam menyusun kebijakan.

Dampak langsung pembatasan ini disinyalir akan menekan perusahaan tambang melalui pengurangan volume produksi, penurunan efisiensi alat berat, hingga pengurangan tenaga kerja.

Sektor hilirisasi juga berpotensi mengalami penurunan kapasitas produksi serta pendapatan akibat seretnya pasokan bahan baku.

Secara khusus, asosiasi menyoroti bahwa pembatasan terhadap limonit sebaiknya dihindari karena material berkadar rendah tersebut merupakan overburden yang dapat dimonetisasi untuk menutup biaya penambangan.

>>> Gempa Filipina M 7,7 Picu Tsunami di Tujuh Wilayah Indonesia

"Kalau limonit dibatasi, biaya penambangan justru meningkat karena overburden tidak dapat dimonetisasi, kehilangan potensi royalti, sementara pasokan untuk industri HPAL terganggu," tutur Sudirman.