Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam pada perdagangan sesi pertama Senin, 8 Juni 2026.

Pelemahan mencapai 2,87 persen atau 160,459 poin ke level 5.434,306 hingga pukul 12.00 WIB.

>>> CIMB Niaga Perkuat Commercial Banking untuk Dukung Ekspansi Bisnis Korporasi

Tekanan berasal dari sentimen negatif pasar keuangan global. Penguatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS membuat investor asing menghindari aset berisiko.

Sebanyak 646 saham melemah, sementara hanya 88 saham menguat dan 79 saham stagnan. Volume perdagangan tercatat 20,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,9 triliun.

Seluruh Sektor Terkoreksi

Kesebelas indeks sektoral kompak berada di zona merah. Sektor kesehatan menjadi yang terburuk dengan penurunan 6,01 persen.

Sektor infrastruktur menyusul dengan pelemahan 4,72 persen, diikuti sektor siklikal yang turun 3,99 persen. Sektor lainnya juga mencatat koreksi signifikan.

Di antara saham LQ45, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 11,96 persen ke Rp 2.430.

>>> Bank DBS Indonesia Perkuat Pendanaan Lewat RupiahCepat

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 7,14 persen dan PT Indosat Tbk (ISAT) melemah 6,12 persen.

Sebaliknya, beberapa saham justru menguat.

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 5,99 persen ke Rp 460, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat 4,64 persen, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 1,22 persen.

Pelemahan IHSG sejalan dengan depresiasi pasar saham dan mata uang di Asia. Saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan terkoreksi akibat reli kecerdasan buatan yang mulai meredup.

Nilai tukar mata uang negara berkembang Asia juga tertekan terhadap dolar AS. Otoritas moneter setempat melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas.

>>> Pemerintah Salurkan Bansos PKH Tahap 2 Juni 2026 Secara Bertahap

Kombinasi sentimen buruk ini membebani pasar keuangan Indonesia melalui pelemahan rupiah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.