Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 mencapai US$ 144,9 miliar.

Angka ini menurun dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar US$ 146,2 miliar.

>>> Israel Serang Fasilitas Militer Iran dengan Rudal Balistik

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso pada Senin (8/6/2026).

Meskipun turun, cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

>>> Kemensos Buka Lowongan 8.180 PPPK Guru dan Tendik Sekolah Rakyat

Stabilisasi Rupiah dan Prospek ke Depan

BI menilai cadangan devisa yang ada mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

Ke depan, BI meyakini ketahanan eksternal tetap baik didukung aliran masuk modal asing.

Sinergi dengan pemerintah akan terus ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (8/6/2026) melemah 0,47% ke level Rp18.105 per dolar AS.

>>> IHSG Ambles 2,49 Persen di Sejam Perdagangan Pertama 8 Juni 2026

Pelemahan rupiah dipicu sentimen global negatif, ditandai kenaikan indeks dolar AS ke 100,11. BI terus melakukan intervensi, termasuk memanfaatkan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar.