Gede membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman Brasil pada awal 2000-an.

Saat itu, menurut dia, keberhasilan pemulihan ekonomi tidak hanya ditopang oleh kebijakan moneter, tetapi juga didukung disiplin fiskal, reformasi anggaran, serta koordinasi kebijakan yang kuat.

Dia menambahkan bahwa Indonesia saat ini telah memiliki sejumlah fondasi fiskal yang relatif solid.

Oleh karena itu, sinkronisasi kebijakan dinilai menjadi kunci agar perbaikan indikator fiskal dapat diterjemahkan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Selain koordinasi fiskal dan moneter, Gede juga menilai langkah pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS melalui perluasan transaksi mata uang lokal dapat menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat stabilitas ekonomi.

Namun, implementasinya tetap memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten dari seluruh otoritas ekonomi.

"Yang dibutuhkan pasar adalah sinyal bahwa seluruh instrumen kebijakan ekonomi bergerak ke arah yang sama," ujarnya.

>>> The Legend of Kitchen Soldier Episode 10 Sub Indo dan Spoiler serta Link bukan LK21 tapi di KST: Kang Sung Jae Bertemu Chef di Kantin Perwira Senior

Menurut Gede, keselarasan antara pemerintah dan bank sentral akan menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal, termasuk tingginya suku bunga global dan dinamika arus modal internasional.