Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersiap menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping di Pyongyang pada Senin (8/6/2026).

Kunjungan ini merupakan yang pertama bagi Xi dalam tujuh tahun terakhir. Tujuannya adalah menarik kembali Korea Utara ke lingkaran pengaruh Beijing.

>>> Jordan Pickford Puji Debut Rio Ngumoha di Timnas Inggris

Pertemuan pekan ini diprediksi sangat kontras dengan KTT tahun 2019 yang terjadi setelah runtuhnya negosiasi denuklirisasi dengan Amerika Serikat.

Korea Utara kini telah mempererat hubungan militer dengan Moskow dan meningkatkan kemampuan nuklirnya, termasuk rencana pembangunan kapal perusak 10.000 ton.

Analisis dan Pandangan Pengamat

"Kedatangan Xi ke Pyongyang adalah pencapaian besar sekaligus puncak dari momentum 'kebangkitan' taktis bagi Kim Jong Un dalam dua tahun terakhir," ujar Andrew Gilholm, analis dari Control Risks.

Meskipun memiliki hubungan sejarah yang kuat, Beijing tetap menentang uji coba nuklir Pyongyang demi stabilitas kawasan.

Namun, kehadiran dukungan penuh dari Rusia saat ini menjadi penyeimbang bagi posisi tawar Korea Utara terhadap dominasi ekonomi China.

"Korea Utara jelas meraup keuntungan ekonomi besar dari kompensasi atas bantuan militer yang mereka pasok ke Rusia," kata John Delury, senior fellow di Asia Society.

>>> UKSW Kalahkan Institut Perbanas pada Pembukaan Campus League 2026

Pengamat menilai Korea Utara kini lebih percaya diri untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi dengan China tanpa merasa inferior.

Fokus kerja sama kedua negara pada KTT ini diperkirakan akan lebih banyak berpusat pada sektor ekonomi dan pariwisata.

"Kim merasa berada di atas angin," ungkap Christopher Green, spesialis Korea dari Leiden University.

"Dia merasa bebas memperluas arsenal nuklirnya secara terang-terangan karena dia tahu betul satu hal: selama tindakannya tidak memicu instabilitas total atau perang terbuka di kawasan, Beijing tidak akan melangkah untuk menghentikannya."

Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tetap mengupayakan dialog dan meminta bantuan Xi Jinping untuk menjadi mediator.

>>> APBI Minta Pemerintah Hati-hati Rancang Skema Gross Split Minerba

Namun, Kim Jong Un baru saja menyerukan ekspansi eksponensial pada persenjataan atom negaranya dan telah menghapus agenda reunifikasi dengan Korea Selatan.