Lembaga keuangan di Asia Pasifik (APAC) menghadapi peningkatan porsi serangan siber global seiring meluasnya perbankan digital, pembayaran real-time, dan layanan berbasis API.

Berdasarkan laporan Keamanan State of the Internet terbaru Akamai, kawasan APAC menyumbang 52% dari seluruh serangan DDoS Layer 7 terhadap jasa keuangan pada 2025.

>>> 4 Senjata Baru Asus di Computex 2026 yang Curi Perhatian

Ini menjadikan APAC sebagai wilayah yang paling sering diserang pada layer aplikasi selama empat tahun berturut-turut.

Serangan DDoS dan API Jadi Ancaman Utama

Serangan DDoS dirancang untuk membanjiri portal perbankan online, API pembayaran, dan aplikasi pelanggan dengan trafik yang terlihat sah, sehingga sulit dideteksi.

Sektor perbankan dan fintech di APAC menjadi yang paling terdampak, masing-masing menyumbang 44% dan 38% serangan DDoS Layer 7.

Sektor perbankan saja mencakup 92% serangan jaringan tingkat rendah di kawasan tersebut.

Kompleksitas lingkungan digital, seperti sistem pembayaran real-time dan platform mobile banking, memperparah masalah.

Tekanan persaingan dan alat koding berbasis AI mempercepat peluncuran layanan baru, namun banyak organisasi belum memiliki gambaran menyeluruh tentang API yang digunakan.

Sebanyak 77% pemimpin TI dan keamanan jasa keuangan di APAC yakin memiliki gambaran menyeluruh tentang aset API, tetapi hanya 27% yang mengetahui API mana yang mengekspos data sensitif.

>>> Indosat Targetkan 27 Ribu Perempuan UMKM Ikuti SheHacks 2026

Secara global, 96% organisasi jasa keuangan melaporkan setidaknya satu insiden keamanan API dalam 12 bulan terakhir, tertinggi dibanding industri lain.

Akamai mencatat lonjakan aktivitas bot canggih sebesar 147% pada akhir 2025, dengan botnet berbasis AI semakin mampu meniru perilaku browser dan melewati pertahanan konvensional.