Pasar kripto kembali memasuki masa yang tidak nyaman. Namun kali ini, persoalannya bukan sekadar harga Bitcoin yang turun tajam.

Di balik gejolak aset kripto terbesar dunia itu, ada fenomena yang lebih besar: ratusan hingga ribuan proyek kripto perlahan menghilang dari radar.

>>> PBNU Apresiasi Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia di Cirebon

Charles Hoskinson, pendiri Cardano, menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menyuarakan kekhawatiran tersebut.

Dalam sebuah video yang diunggah setelah platform analitik kripto terkenal mengumumkan penghentian operasinya, Hoskinson memperingatkan bahwa industri kripto sedang menuju fase penyaringan besar-besaran.

Menurut dia, lebih banyak proyek akan tutup, perusahaan kripto kehabisan dana, dan para pengembang memilih meninggalkan ekosistem yang selama ini mereka bangun.

"Saya menduga akan ada gelombang kegagalan. Tahun ini akan sangat berat," ujarnya dalam laporan Bloomberg (7/6).

Pernyataan itu muncul di tengah tekanan yang kembali menghantam Bitcoin.

Mata uang kripto terbesar di dunia tersebut sempat merosot lebih dari 6% hingga berada di bawah level US$ 60.000.

Sepanjang bulan ini, harga Bitcoin telah turun sekitar 17% dan menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir.

Berbagai faktor menjadi pemicunya, mulai dari aksi jual sebagian kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan Strategy Inc., arus keluar dana yang masih membayangi ETF Bitcoin, hingga meningkatnya kekhawatiran bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi kembali menaikkan suku bunga.

Akibatnya, investor beramai-ramai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Data CoinGlass menunjukkan nilai likuidasi aset digital dalam sehari mencapai lebih dari US$ 1,7 miliar.

Bitcoin Bukan Lagi Fenomena Baru

Namun bagi sebagian pengamat, penurunan Bitcoin sebenarnya bukan cerita utama.