Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed Ancam Rupiah Tembus Rp19.000
Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan spekulasi kebijakan suku bunga ketat The Fed membuat mata uang rupiah dibayangi risiko pelemahan hingga tembus Rp19.000 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa secara teknikal, indeks dolar AS berpotensi menguat tajam dalam sepekan ke depan dengan bergerak di rentang batas bawah 99 hingga batas atas 101.00.
>>> HUAWEI nova 14 Pro Layak Dibeli? Simak Kelebihan dan Kekurangannya Sebelum Memilih
Penguatan dolar ini diyakini akan memperlemah rupiah di pasar spot. Untuk jangka pendek, rupiah diperkirakan bakal ditransaksikan pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Namun, volatilitas pasar dapat meningkat tajam jika sentimen global tak mereda.
"Kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99% itu akan di Rp19.000," pungkas Ibrahim dalam keterangan resminya, Minggu (7/6/2026).
Dua Faktor Utama Penekan Rupiah
Ibrahim memaparkan terdapat dua faktor fundamental utama yang menjadi motor penggerak fluktuasi indeks dolar dan menekan mata uang regional.
Faktor pertama adalah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat melakukan penyerangan terhadap fasilitas radar di Selat Hormuz, yang kemudian memicu aksi balasan dari Iran.
>>> Veda Ega Pratama Turun ke Peringkat Enam Klasemen Moto3 2026
Tensi yang meninggi di jalur perdagangan logistik internasional tersebut diperkirakan menyulitkan terjadinya gencatan senjata dalam waktu dekat.
Gangguan pada jalur distribusi minyak dunia ini diproyeksi bisa mengerek harga minyak mentah jenis WTI kembali ke US$101 per barel, yang pada gilirannya semakin memperkuat posisi dolar AS sebagai safe haven.
Faktor fundamental kedua datang dari kebijakan moneter AS.
Rilis data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan performa yang solid, sehingga memperkuat indikasi bahwa Bank Sentral AS tidak hanya akan mempertahankan suku bunga di level tinggi, tetapi juga membuka ruang kenaikan suku bunga lanjutan.
Pasar berekspektasi The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2026.
>>> Pelaku Curanmor Tewas Ditembak Usai Ditangkap, Keluarga Pertanyakan Tindakan Oknum Polisi
Skenario pengetatan moneter itu dinilai menjadi pendorong utama bagi investor global untuk terus menarik modalnya dari negara berkembang dan mengalokasikannya ke dalam aset berdenominasi dolar AS.
Update Terbaru
Trump Dukung Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB Usai Piala Dunia 2026
Kamis / 23-07-2026, 04:37 WIB
Serangan Drone Iran Makin Presisi, Intelijen AS Bingung Cari Dalang
Kamis / 23-07-2026, 04:36 WIB
Tanggapi Ancaman Iran, Trump: AS Tak Butuh Selat Hormuz
Kamis / 23-07-2026, 04:36 WIB
Matt Damon Belajar Jadi Pemimpin Film dari Robin Williams dan Tom Hanks
Kamis / 23-07-2026, 04:14 WIB
Activision Akui Matchmaking Call of Duty Dulu Lebih Baik, Perbarui Black Ops 7 dengan Sistem Klasik
Kamis / 23-07-2026, 04:14 WIB
Jadwal Pembayaran SSI Agustus 2026 Dimajukan, Cek Tanggalnya
Kamis / 23-07-2026, 04:14 WIB
Mohamed El-Erian Puji Program Rekening Investasi Anak Trump
Kamis / 23-07-2026, 04:14 WIB
Chick-fil-A Peringatkan Pelanggan Setelah Serangan Siber Bocorkan Data
Kamis / 23-07-2026, 04:14 WIB
Tomb Raider King Animated Series Umumkan Pengisi Suara Inggris, Tayang 22 Juli
Kamis / 23-07-2026, 04:11 WIB
Ted Lasso Season 4 Akan Fokus pada Tim Sepak Bola Wanita
Kamis / 23-07-2026, 04:11 WIB
Salvador Perez Samai Rekor Home Run Royals, Kalahkan Giants
Kamis / 23-07-2026, 04:11 WIB
Bikin Farm Otomatis di Minecraft? Ini Triknya Biar Gak Repot Lagi!
Kamis / 23-07-2026, 04:07 WIB
Perubahan eFootball dari Masa ke Masa: Dari PES ke Free-to-Play
Kamis / 23-07-2026, 04:07 WIB
Ilhan Omar Dukung Penangkapan Netanyahu Saat Kunjungan ke AS
Kamis / 23-07-2026, 04:07 WIB







