Pemilik sepeda motor listrik kelas entry level mulai beralih ke baterai litium untuk meningkatkan performa kendaraan. Baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA) dinilai kurang optimal untuk mobilitas sehari-hari.

Baterai litium menawarkan bobot lebih ringan, masa pakai lebih panjang, dan jarak tempuh lebih baik.

>>> Lonjakan Kebutuhan Chip Memori AI Ancam Rantai Pasok Industri Otomotif

Keunggulan ini menjadi daya tarik utama bagi pengguna yang ingin meningkatkan daya jelajah motor listrik murah mereka.

Meskipun memerlukan biaya tambahan, hasil peningkatan performa dinilai sebanding dengan pengeluaran. Konsumen dapat memilih baterai pabrikan atau custom sesuai kebutuhan.

Biaya Konversi Baterai

Muhlasin, pemilik bengkel EV Solution di Pondok Aren, Tangerang Selatan, mengatakan harga baterai pabrikan dan custom relatif mirip.

Besaran biaya tergantung jenis kendaraan, tegangan, dan kapasitas daya.

Untuk sepeda listrik, biaya konversi berkisar Rp1,9 juta hingga Rp3 juta. Sementara untuk motor listrik, anggaran mencapai Rp4 juta hingga Rp9 juta.

>>> Konsumen Lebih Pilih Toyota bZ4X Dibanding Urban Cruiser EV

Biaya tersebut sudah termasuk jasa penyesuaian sistem kelistrikan agar baterai litium terintegrasi aman. Hal ini penting karena motor awalnya dirancang untuk baterai SLA.

Penambahan jarak tempuh menjadi faktor utama keputusan upgrade. Kapasitas baterai yang lebih besar memungkinkan kendaraan digunakan lebih lama tanpa sering mengisi daya.

Muhlasin mencontohkan motor dengan tegangan 48 volt atau 60 volt dan kapasitas 20 Ah mampu menempuh 40-50 kilometer.

Jarak tersebut cukup untuk aktivitas harian seperti ke sekolah atau pasar.

Bagi pengendara dengan rutinitas padat dan jarak jauh, kapasitas baterai dapat ditingkatkan lebih tinggi dengan biaya lebih besar.

>>> Bengkel Biasa Berisiko Picu Motor Listrik Terbakar, Pemilik Diminta Waspada

Hasilnya, kendaraan lebih fleksibel tanpa perlu sering mengisi ulang.