Regulasi dan Tata Kelola

Teguh menilai ketidakpastian jadwal pelelangan frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz masih menjadi kendala karena prosesnya belum rampung.

Kondisi tersebut menyulitkan operator dalam menyusun rencana belanja modal jangka panjang.

Proses refarming spektrum juga dinilai masih berjalan lambat.

Skema kompensasi migrasi C-band dari operator satelit ke layanan mobile broadband belum final, padahal melibatkan empat operator satelit nasional.

Dia juga menyoroti belum jelasnya regulasi terkait jaringan privat 5G, mulai dari skema perizinan, alokasi frekuensi nonpublik, hingga kewajiban interkoneksi.

Kesiapan SDM dan Ekosistem

Teguh mengatakan kebutuhan talenta digital nasional diperkirakan mencapai 9 juta orang hingga 2030 berdasarkan proyeksi Bappenas dan McKinsey.

Namun, masih terdapat kekurangan tenaga ahli pada bidang network slicing, Open RAN, edge computing, serta integrasi IT/OT.

Berbagai program pengembangan talenta yang telah berjalan saat ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara menyeluruh.

Program seperti ZTE 5G Rising Star, Nokia 5G Academy, serta kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi disebut baru mencakup sebagian kecil kebutuhan talenta digital nasional.

Jumlah vendor dan system integrator yang memiliki kompetensi Industry 4.0 dalam skala produksi masih terkonsentrasi di kawasan Jabodetabek.

Ekspansi ke kawasan industri di luar Jawa seperti Sei Mangkei, Bitung, Morowali, dan Bintuni masih terbatas.

>>> Kemensos Salurkan Bansos PKH dan BPNT Juni 2026 Lewat Rekening KKS

Di sisi lain, standardisasi IoT juga dinilai belum sepenuhnya matang. Meskipun terdapat SNI IoT yang sudah berjalan, harmonisasi antar K/L dan industri vertikal masih dalam proses.