Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terus mengalami penurunan signifikan.

Kedua saham perbankan raksasa ini bahkan telah menyentuh titik terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

>>> Lionel Scaloni Beri Debut Empat Pemain saat Argentina Kalahkan Honduras

Tekanan jual yang masif dari investor asing menjadi penyebab utama anjloknya harga kedua saham tersebut dalam sepekan terakhir.

Aksi keluar modal asing ini memaksa posisi harga BBCA dan BBRI merosot ke level yang lebih dalam.

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), saham BBCA berada di posisi Rp 5.075 per saham. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 10,96% dalam satu minggu.

Jika dihitung sejak awal tahun 2026 atau secara year-to-date (ytd), saham bank swasta terbesar ini telah ambles hingga 37,15%.

Sementara itu, saham BBRI ditutup pada level Rp 2.740 per saham setelah melemah sebesar 7,12% dalam sepekan terakhir.

Penurunan ini menggenapi pelemahan harga saham bank pelat merah tersebut sebesar 32,84% sepanjang tahun berjalan di 2026.

Aksi lego saham oleh investor asing tercatat sangat besar pada kedua emiten perbankan ini.

Sepanjang tahun ini, nilai penjualan bersih atau net sell investor asing pada saham BBCA telah menembus Rp 32,44 triliun.

Sedangkan pada saham BBRI mencapai Rp 9,68 triliun.

Analis: Penurunan Akibat Faktor Eksternal

Analis Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memberikan pandangan mengenai situasi ini.

Walaupun pasar sedang tertekan, pihak KISI tetap menyatakan optimisme bahwa harga saham kedua bank tersebut akan kembali bangkit di masa depan.

Menurut Muhammad Wafi, BBCA dan BBRI merupakan motor penggerak utama dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia.