Saham BBCA dan BBRI Sentuh Rekor Terendah Lima Tahun
Porsi kepemilikan investor asing pada kedua emiten ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan saham-saham lain di pasar modal dalam negeri.
>>> Dua Pemain River Plate Debut Bersama Timnas Argentina
Konsekuensinya, sewaktu terjadi gelombang tekanan jual dari pemodal internasional, harga saham BBCA dan BBRI akan merosot terlebih dahulu daripada saham lainnya.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong kedua saham tersebut terjerembab ke rekor harga terendah dalam lima tahun.
"BBCA dan BBRI dijual asing bukan karena fundamental memburuk.
Dua-duanya adalah saham paling likuid di IHSG sehingga jadi instrumen exit pertama kalau asing cash out dari Indonesia," kata Wafi saat dihubungi, Jumat (5/6/2026).
Lebih lanjut, kinerja keuangan BBCA dan BBRI dinilai masih berada dalam kondisi yang sangat kokoh.
Hal ini dibuktikan melalui pertumbuhan perolehan laba bersih kedua perseroan yang tetap melaju positif secara tahunan.
Berdasarkan data keuangan hingga April 2026, BBCA berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 20,81 triliun.
Pada periode yang sama, BBRI juga sukses membukukan perolehan laba bersih yang tidak kalah besar, yakni mencapai Rp 15,89 triliun.
Muhammad Wafi menambahkan bahwa gelombang penjualan oleh investor asing ini dipicu oleh faktor ketidakpastian situasi ekonomi makro Indonesia.
Penurunan harga ini murni karena faktor eksternal dan bukan disebabkan oleh masalah internal atau penurunan kualitas fundamental perbankan.
Secara valuasi, harga kedua saham perbankan ini dianggap sudah berada pada level yang sangat murah.
Saham BBRI saat ini mencatatkan rasio Price to Book Value (PBV) sebesar 1,32x serta rasio Price Earnings Ratio (PER) di angka 7,64x.
"Kondisi BBCA dan BBRI saat ini bukan value trap, tapi forced selling yang bikin diskon ekstrem pada bisnis yang fundamentalnya tidak berubah," kata Wafi.
>>> Argentina Kalahkan Honduras 2-0 dalam Laga Uji Coba di Texas
Melihat situasi tersebut, penurunan harga ini dipandang sebagai momentum diskon pasar yang terjadi akibat pergerakan arus dana dan sentimen eksternal global.
Update Terbaru
Kebiasaan Menatap Layar HP Terlalu Dekat Picu Gangguan Kesehatan Mata
Minggu / 07-06-2026, 12:38 WIB
Industri Petrokimia Nasional Tertekan Lonjakan Harga Gas dan Banjir Impor
Minggu / 07-06-2026, 12:38 WIB
Kemensos Salurkan Bansos PKH dan BPNT Juni 2026 Lewat Rekening KKS
Minggu / 07-06-2026, 12:38 WIB
Kemenkeu Salurkan Transfer ke Daerah Rp306,1 Triliun hingga Mei 2026
Minggu / 07-06-2026, 12:36 WIB
Said Iqbal Buka Suara soal Kabar Masuk Kabinet, Minta Tunggu Pengumuman Resmi
Minggu / 07-06-2026, 12:36 WIB
4 Rekomendasi Serum Spray Praktis untuk Wajah Segar dan Glowing
Minggu / 07-06-2026, 12:33 WIB
AMRT Tangguh di Tengah Tekanan Daya Beli, Ekspansi Gerai Jadi Katalis
Minggu / 07-06-2026, 12:33 WIB
KPK Tetapkan Silmy Karim Tersangka Korupsi Izin Tinggal WNA, ICW Minta Pengusutan Diperluas
Minggu / 07-06-2026, 12:33 WIB
PT Bisi International Tbk Targetkan Laba Bersih Tumbuh 33 Persen
Minggu / 07-06-2026, 12:32 WIB
Karel Mainaky Targetkan All Indonesian Final di Australia Open 2026
Minggu / 07-06-2026, 12:32 WIB
Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin Lolos ke Final Indonesia Open 2026
Minggu / 07-06-2026, 12:32 WIB
Korlantas Polri Siapkan Operasi Patuh 2026, Fokus pada Pelanggaran Berisiko Tinggi
Minggu / 07-06-2026, 12:32 WIB
Raymond dan Nikolaus Lolos ke Final Indonesia Open 2026
Minggu / 07-06-2026, 12:28 WIB
Polri Siapkan Operasi Patuh 2026 Mulai 8 Juni Mendatang
Minggu / 07-06-2026, 12:28 WIB






