>>> Mirra Andreeva Juarai Prancis Terbuka 2026 Usai Kalahkan Maja Chwalinska

Ibnu Hajar Al-Asqalani memaparkan bahwa pemilihan Muharram sebagai awal tahun didasarkan pada kesuciannya.

Pola ini membuat perjalanan satu tahun umat Muslim diawali dan diakhiri dengan bulan suci, yaitu Dzulhijjah.

Formasi penanggalan Islam menempatkan Rajab di tengah tahun, serta Dzulqa'dah dan Dzulhijjah di akhir tahun sebagai bagian dari bulan haram.

Struktur tersebut memberikan ruang bagi umat untuk mengintensifkan amal saleh pada periode yang dimuliakan.

Muharram juga bertepatan dengan momen kembalinya jemaah haji ke kampung halaman. Kondisi ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk memulai lembaran hidup baru dengan semangat spiritual yang lebih baik.

Imam Fakhruddin Ar-Razi menjabarkan bahwa perbuatan maksiat pada bulan haram memicu konsekuensi dosa yang lebih berat. Sebaliknya, ganjaran untuk ibadah dan amal saleh juga dilipatgandakan.

Arti kata haram pada bulan-bulan ini menandakan hukuman yang lebih berat untuk kemaksiatan serta pahala yang lebih melimpah untuk ketaatan.

Umat Islam dianjurkan memanfaatkan momentum ini untuk mengevaluasi diri dan menyusun resolusi spiritual.

Ibnu Al-Jauzi mengategorikan Muharram sebagai titik awal untuk menumbuhkan kebaikan secara hati-hati serta memperbaiki hubungan dengan pencipta.

Keistimewaan bulan ini juga diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah RA.

Beliau bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada syahrullah yaitu Muharram.

>>> FBI Perketat Pengamanan Udara Piala Dunia 2026 dari Ancaman Drone

Penyebutan istilah syahrullah dalam hadis tersebut mempertegas kedudukan eksklusif Muharram yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain dalam kalender Hijriah.