Di sisi lain, induk usaha Google, Alphabet, juga tengah meningkatkan belanja investasinya secara agresif dengan mengalokasikan lebih dari US$180 miliar atau sekitar Rp3.240 triliun untuk belanja modal tahun ini.

Alphabet juga memperkirakan nilai tersebut akan meningkat signifikan pada 2027 dan baru saja mengumumkan aksi penjualan saham senilai US$80 miliar atau sekitar Rp1.440 triliun.

Seperti kontrak dengan Anthropic, perjanjian antara Google dan SpaceX juga memuat klausul pembatalan yang memberikan hak kepada kedua pihak untuk mengakhiri kerja sama dengan pemberitahuan 90 hari setelah 31 Desember 2026.

Akses Google terhadap pusat data akan ditingkatkan secara bertahap hingga September 2026 dengan biaya yang lebih rendah selama masa transisi.

Apabila SpaceX gagal menyediakan jumlah GPU yang dijanjikan hingga 30 September 2026, setelah masa tenggang satu bulan, Google dapat segera mengakhiri perjanjian atau menerima jumlah GPU yang tersedia dengan penyesuaian biaya bulanan yang lebih rendah.

Pengumuman kerja sama ini disampaikan hanya sepekan sebelum saham SpaceX diperkirakan mulai diperdagangkan di bursa Nasdaq.

Berdasarkan dokumen regulator pasar modal Amerika Serikat, perusahaan menargetkan penghimpunan dana sekitar US$75 miliar atau setara Rp1.350 triliun dengan valuasi mencapai US$1,75 triliun.

Google sendiri merupakan salah satu investor lama di SpaceX dengan nilai kepemilikan saham yang diperkirakan mencapai lebih dari US$100 miliar atau sekitar Rp1.800 triliun setelah IPO.

>>> PT PNM Rombak Jajaran Komisaris dan Direksi untuk Perkuat Kepemimpinan

Selain kerja sama komputasi AI, kedua perusahaan juga dilaporkan tengah menjajaki pembangunan pusat data orbital di luar angkasa yang menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang SpaceX setelah IPO.