Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan terkait fenomena 'sell Indonesia' yang menjadi sorotan media internasional.

Fenomena ini muncul di tengah tekanan kurs rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

>>> Pemerintah Perbaiki Strategi Komunikasi Respons Pelemahan Rupiah

Purbaya menilai pandangan tersebut belum tentu menggambarkan kondisi ekonomi nasional secara utuh. Menurutnya, salah satu tulisan yang dimuat media internasional tidak sepenuhnya memahami kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

"Itu kan diterbitkan, itu tren jual Indonesia saya baca di Bloomberg ya, salah satu penulis mungkin nggak tau keadaan Indonesia seperti apa," sebut Purbaya.

Pemerintah sengaja mempercepat publikasi laporan APBN KiTA untuk memberikan gambaran akurat mengenai kondisi ekonomi domestik kepada pelaku pasar.

Langkah ini diambil untuk menunjukkan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih terjaga dengan baik.

"Ketika kemarin, makanya kemarin sengaja saya percepat APBN KiTA, untuk melihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya juga cukup kuat, sehingga nanti lama-lama sentimen negatif itu bisa hilang," imbuh Purbaya.

Investor juga diajak untuk mencermati data-data ekonomi Indonesia secara lebih mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Purbaya menegaskan fundamental ekonomi nasional saat ini masih berada dalam posisi yang kuat.

"Jadi, teman-teman investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa.

>>> Bisnis Kripto Keluarga Trump Raup Pendapatan Rp 2,7 Triliun

Yang bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan presiden," tutur Purbaya.

Sorotan Bloomberg dan Dampaknya

Media internasional Bloomberg menyoroti anjloknya IHSG sebesar 36 persen sepanjang tahun 2026.

Penurunan tajam ini menempatkan pasar saham Indonesia dengan kinerja terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau.

Selain pasar saham, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah lebih dari 7 persen. Hal ini memicu investor asing menarik dana miliaran dolar AS dari pasar obligasi Indonesia.

Kondisi ini mengubah posisi Indonesia yang sebelumnya menjadi salah satu tujuan utama investasi di portofolio pasar negara berkembang.

Situasi ini turut memicu respons negatif dari para pengelola dana internasional.

>>> Liverpool Bidik Penyerang Baru Jelang Jendela Transfer Musim Panas

"Perdagangan paling populer di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'," kata George Boubouras, Kepala Riset di K2 Asset Management.