Fasilitas fast charging memberikan kemudahan bagi pengguna mobil listrik untuk mengisi daya dalam waktu singkat, terutama saat perjalanan jauh.

Namun, muncul pertanyaan mengenai dampak rutin menggunakan metode pengisian cepat ini terhadap performa baterai.

>>> Bea Cukai Tagih Denda Rp97 Miliar ke Tiffany & Co

Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, menjelaskan bahwa kebiasaan memakai fast charging tidak langsung merusak baterai.

Akan tetapi, dalam jangka panjang, pengisian cepat dapat memengaruhi kesehatan serta kapasitas penyimpanan energi baterai.

"Setiap pabrikan juga menyarankan untuk slow charging. Sebenarnya ini pengaruh ke usia baterainya juga," kata Yogig.

Salah satu efek nyata adalah berkurangnya jarak tempuh mobil setelah pemakaian beberapa tahun.

Yogig memberi gambaran mobil listrik baru yang awalnya memiliki daya jelajah hingga 300 kilometer saat baterai penuh.

Kapasitas tersebut bisa menurun jika kendaraan terlalu sering diisi daya menggunakan fast charging.

"Kalau misalnya kita sering pakai fast charging, biasanya setelah lima tahun atau bahkan kurang, saat dicas penuh jarak tempuhnya bisa berkurang.

Yang tadinya 300 kilometer sekali cas bisa jadi sekitar 250 kilometer," kata Yogig.

Beban Arus Listrik Besar pada Baterai

Penurunan performa terjadi karena baterai menerima pasokan arus listrik yang jauh lebih besar saat proses pengisian cepat.

Saat fast charging diaktifkan, komponen baterai menerima aliran ampere atau daya yang besar dalam durasi singkat.

>>> Mathew Baker Catat Rekor Pemain Termuda Timnas Senior Indonesia

Hal ini yang membuat pengisian daya menjadi lebih cepat dibandingkan slow charging.

"Kalau fast charging kan dia dikasih ampere atau daya yang langsung besar," ujarnya.

Sebaliknya, slow charging memasukkan arus listrik lebih kecil sehingga proses pengisian berjalan perlahan dan stabil.