Potensi bioekonomi Indonesia melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu mulai diperkenalkan di kancah internasional. Langkah strategis ini dipaparkan dalam Partnership for Forests Conference (P4F) yang berlangsung di London.

Upaya tersebut bertujuan mendorong model bisnis baru yang membuktikan kelestarian hutan dapat terjaga sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

>>> Rafa Yuste Naik Darah Usai Atletico Madrid Olok Barcelona di Media Sosial

Hutan sering dipandang hanya sebagai kawasan ekologis, padahal menyimpan potensi ekonomi besar.

Sebagai satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang hadir dalam forum tersebut tahun ini, ParagonCorp menampilkan prototipe produk berbasis Illipe Butter.

Bahan alami ini berasal dari buah pohon tengkawang (Shorea stenoptera) yang tumbuh subur di Kalimantan Barat.

Komunitas Dayak memanen bahan ini dengan mengikuti siklus alami pohon tanpa pembukaan lahan baru atau deforestasi.

Illipe Butter menjadi contoh nyata hasil hutan non-kayu yang potensial untuk dikembangkan di berbagai industri, termasuk sektor kecantikan.

Komitmen Keberlanjutan

“Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa.

Melalui forum ini kami ingin menunjukkan bahwa hutan yang tetap berdiri juga dapat menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara bertanggung jawab,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp.

Pihak perusahaan menegaskan eksplorasi Illipe Butter masih pada tahap awal riset dan pengembangan.

>>> Kisah Ayah Tulang Rapuh Jual Kue Lapis demi Biaya Operasi Jantung Anak

Kehadiran di forum P4F bukan untuk meluncurkan produk baru, melainkan membuka ruang diskusi mengenai peluang pengembangan bioekonomi berkelanjutan.

Selain hasil hutan non-kayu, pentingnya melihat hutan lebih dari sekadar kumpulan pohon juga ditekankan.

Hutan berperan krusial dalam menjaga sistem air, stabilitas iklim, keanekaragaman hayati, serta menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang.

Sebagai wujud komitmen, kolaborasi bersama Indika Nature dan CFES telah dilakukan untuk melindungi sekitar 4.000 hektare hutan di Jambi.

Perlindungan serupa juga diterapkan pada sekitar 1.000 hektare hutan di Kalimantan.

Kawasan hutan yang dilindungi menjadi habitat penting bagi satwa langka seperti Macan Dahan Borneo, Pangolin, Rangkong Gading, Bekantan, Beruang Madu, Owa Kelawat, dan Binturong.

“Kami percaya masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan inovasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga ekosistem dan komunitas yang mendukung inovasi tersebut.

>>> Investor Asing Borong Saham WIFI saat IHSG Ambles 4,2%

Perjalanan ini masih panjang, dan kami terus belajar,” ujar dr. Sari.