Sasaran pocong adalah anak perempuan di bawah 17 tahun dan anak laki-laki di bawah lima tahun. Bahkan, dalam satu waktu disebut ada 27 pocong berkeliaran.

Seorang warga bernama Arim mengaku melihat pocong turun dari mobil Kijang merah. "Saya memergoki sejumlah setan pocong keluar dari kendaraan Kijang warna merah.

Jalannya tidak melangkahkan kaki tapi loncat-loncat seperti pocong di sinetron TV," ungkapnya.

Isu ini menyebar hingga Banjar dan Pangandaran. Banyak warga mengunci rumah rapat-rapat pada malam hari demi melindungi anak-anak.

Setahun berselang, pada 1998, suasana mencekam muncul di Jawa Timur. Kali ini bukan hanya pocong, tetapi juga isu "ninja misterius" setelah maraknya pembunuhan dukun santet di Banyuwangi.

Surabaya Post (17 Oktober 1998) menyebut masyarakat Surabaya, Gresik, hingga Malang dihantui teror ninja yang turun dari mobil boks.

Periode 1997-1998 merupakan masa krisis berat bagi Indonesia.

Menurut Jan Luiten van Zanden, nilai tukar rupiah jatuh drastis hingga sekitar Rp10.000-12.000 per dolar AS, memicu krisis pangan dan energi serta kepanikan masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa isu makhluk gaib dan teror misterius kerap muncul di tengah situasi sosial yang tegang.

>>> Penyebab Telinga Berdenging dan Cara Mengatasinya Menurut Medis

Di Indonesia, cerita pocong bukan sekadar kisah horor, melainkan bagian dari dinamika sosial yang berulang dalam sejarah.