Fenomena kemunculan pocong yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial ternyata bukan sekadar cerita horor biasa.

Sejarah mencatat, isu mistis ini kerap merebak justru saat kondisi perekonomian negara sedang sulit.

>>> Bank Indonesia dan Pemerintah Sepakat Dua Langkah Perkuat Rupiah

Dalam studi berjudul "Mistisisme Pocong Sebagai Representasi Arwah Gentayangan" (2023), pocong digambarkan sebagai arwah yang terbungkus kain kafan dan dipercaya belum menemukan ketenangan.

Sosok ini dianggap gentayangan karena masih terikat dengan dunia nyata.

Teror Pocong di Era 1980-an

Harian Berita Yudha (19 November 1984) melaporkan keresahan warga Purwokerto akibat kemunculan pocong yang meneror rumah pada malam hari.

Polisi kemudian mengungkap bahwa teror itu hanyalah modus pencurian.

Empat tahun kemudian, Harian Neraca (31 Oktober 1988) kembali menyoroti isu serupa.

Pocong meneror rumah warga agar mereka takut keluar malam, lalu memanfaatkan situasi sepi untuk membobol bangunan usaha. Gudang pedagang dibobol, uang jutaan rupiah milik bengkel hilang.

"Karena isu bohong itu tersebar luas, kini warga tidak berani keluar rumah bila malam hari," tulis Harian Neraca.

Pada periode yang sama, ekonomi Indonesia sedang tertekan.

Sejarawan Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) mencatat akhir dekade 1980-an sebagai masa sulit.

RAPBN 1986/1987 turun sekitar 7% akibat penurunan ekspor migas.

"Pertumbuhan melamban, perdagangan dan investasi menurun tajam, utang meningkat, dan pemerintah menghadapi tantangan fiskal besar karena jatuhnya pendapatan minyak," tulis keduanya.

>>> Gappri Desak Kemenkes Tinjau Ulang RPMK Kemasan Seragam Produk Tembakau

Kembali Mencekam pada 1997-1998

Pada 1997, teror pocong kembali menghebohkan Ciamis, Jawa Barat. Surat kabar Berita Yudha (3 Juli 1997) melaporkan satu kota dilanda ketakutan setiap malam selepas magrib.