Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menggelar konferensi pers bersama di Kompleks Parlemen pada Sabtu (6/6/2026).

Langkah ini diambil untuk mengatasi tekanan berat yang melanda pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

>>> BI dan Kemenkeu Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Stabilkan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah hampir 20 persen dalam sebulan terakhir akibat aksi jual investor asing.

Pemerintah dan otoritas moneter kini fokus pada sinergi untuk meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dalam negeri. Tujuannya memicu kembalinya aliran modal asing.

BI mencatat bahwa tren kenaikan suku bunga global telah memicu keluarnya dana asing dari saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Kami tegaskan bahwa koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat-sangat erat. Bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Perry Warjiyo.

Upaya stabilisasi nilai tukar rupiah selanjutnya ditempuh dengan menjaga kecukupan likuiditas perbankan dan pasar uang.

Strategi ini dijalankan lewat pengelolaan kas pemerintah yang ditempatkan di BI, dibarengi peningkatan remunerasi dari bank sentral kepada pemerintah.

"Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Perry.

Kombinasi kebijakan tersebut dinilai akan memperkokoh efektivitas operasi moneter sekaligus mendukung kebijakan fiskal dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

>>> Polda Jateng Ungkap Cara Cek Keaslian BPKB dan STNK Kendaraan

"Dua hal itu yang kami lakukan. Yang kami sepakat ini akan terus kita lakukan.