Jason Zapata ditangkap karena diduga menembakkan senjata ke udara. Ia dimasukkan ke sel tahanan yang remang-remang, dengan sampah berserakan dan telepon rusak.

Dua pria tua berkepala plontos duduk di belakang, mengamati gelang identitas Zapata. Mereka mengaku anggota geng yang dipenjara karena pembunuhan.

>>> Memahami Perbedaan Gambler's Fallacy dan Regression to the Mean

Zapata, yang saat itu berusia 24 tahun, belum pernah dipenjara sebelumnya. Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya saat kedua pria itu membanggakan orang yang mereka bunuh.

Tiga bulan kemudian, Zapata tahu bahwa kedua pria itu adalah agen polisi yang menyamar. Mereka bagian dari operasi Perkins, taktik kontroversial untuk mendapatkan pernyataan incriminasi dari tersangka.

Operasi Perkins: Alat Investigasi atau Tekanan Psikologis?

Operasi Perkins marak di California dan telah membantu mengamankan ratusan vonis pembunuhan. Jaksa menyebutnya alat investigasi yang kuat.

Namun, taktik ini mendapat sorotan dari hakim, akademisi, dan pengacara. Mereka menilai operasi ini koersif, berisiko pengakuan palsu, dan tidak proporsional menarget warga kulit hitam dan Latin.

Analisis CalMatters di empat county menunjukkan operasi Perkins melibatkan rekayasa bukti, sel yang dilengkapi alat perekam, dan pembayaran hingga $3.000 per hari kepada agen.

Agen sering digambarkan lebih tua dan lebih besar secara fisik dari target, dan kerap berpura-pura sebagai anggota geng dengan riwayat kekerasan.

Pengacara kriminal Michelle Luna Reynoso menyebutnya perang psikologis. Ia mempertanyakan apakah ini tidak termasuk hukuman yang kejam dan tidak biasa.

Kasus Jason Zapata: Antara Pengakuan dan Rekayasa

Zapata tumbuh di lingkungan kelas menengah di Hawthorne. Ia menjadi korban kejahatan kekerasan saat berusia 15 tahun, dan keluarganya pindah ke Temecula.