Trump Kaji Rencana Pemerintah AS Miliki Saham di Perusahaan AI
Pemerintah Amerika Serikat tengah mengkaji rencana kepemilikan saham pada sejumlah perusahaan kecerdasan buatan (AI).
Gagasan tersebut disampaikan oleh Presiden Donald Trump pada Jumat (5/6/2026) di dalam pesawat Air Force One.
>>> NVIDIA Lanjutkan Proyek RTX 5000 SUPER dengan Dukungan Memori GDDR7
"Kami akan melihat kemungkinan itu.
Ada sesuatu yang sangat menarik dari gagasan tersebut, di mana ini hampir menjadi kemitraan dengan publik Amerika," kata Trump kepada wartawan.
Rencana ini muncul setelah media digital NOTUS melaporkan adanya pembahasan awal antara pejabat senior AS dan perusahaan AI mengenai pembelian sebagian saham.
Trump juga menjadwalkan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan AI dalam waktu dekat untuk membahas sektor ini lebih lanjut.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan rincian agenda maupun konfirmasi apakah pembahasan tersebut akan mencakup rencana kepemilikan saham.
Beberapa raksasa teknologi seperti Anthropic, OpenAI, Google, Meta, dan SpaceX juga belum memberikan tanggapan resmi.
>>> Tio Pakusadewo Sakit, Hanya Punya BPJS Kelas 3, Sahabat Buka Donasi
Langkah Strategis Pemerintah
Langkah ini selaras dengan pendekatan Trump yang semakin aktif masuk ke sektor korporasi strategis.
Sebelumnya, pemerintah AS telah mengambil alih kepemilikan saham di perusahaan semikonduktor Intel, serta beberapa perusahaan mineral tanah jarang dan teknologi kuantum.
Di bidang regulasi, pemerintah AS baru saja menyepakati revisi perintah eksekutif yang mewajibkan pengembang menyerahkan model AI tercanggih mereka untuk pengujian keamanan siber sebelum dilepas ke publik.
Kebijakan ini sempat tertunda akibat keberatan dari pelaku industri yang khawatir regulasi ketat dapat menurunkan daya saing AS terhadap China.
Pengawasan terhadap sektor AI semakin diperketat setelah Anthropic meluncurkan perangkat AI baru bernama Mythos.
>>> Mahasiswa Universitas Mataram Juarai Swift Student Challenge 2026 Apple
Sejumlah pakar menilai teknologi tersebut membawa risiko siber besar jika jatuh ke pihak yang salah, terutama pada sektor yang saling terhubung seperti industri perbankan.
Update Terbaru
Atur Posisi Sofa untuk Meningkatkan Kenyamanan Ruang Tamu
Sabtu / 06-06-2026, 11:24 WIB
Fenomena Teror Pocong Kembali Merekah, Ternyata Berkaitan dengan Ekonomi Sulit
Sabtu / 06-06-2026, 11:22 WIB
Bank Indonesia dan Pemerintah Sepakat Dua Langkah Perkuat Rupiah
Sabtu / 06-06-2026, 11:22 WIB
Gappri Desak Kemenkes Tinjau Ulang RPMK Kemasan Seragam Produk Tembakau
Sabtu / 06-06-2026, 11:22 WIB
Penyebab Telinga Berdenging dan Cara Mengatasinya Menurut Medis
Sabtu / 06-06-2026, 11:21 WIB
Kemenkeu: Minat Investor terhadap SBN Tetap Terjaga Sepanjang 2026
Sabtu / 06-06-2026, 11:21 WIB
SiTepat Digital Motoshop Buka Outlet ke-31 di Cakung Jakarta Timur
Sabtu / 06-06-2026, 11:20 WIB
Dubes AS Desak Taiwan Alokasikan Anggaran Pertahanan untuk Drone
Sabtu / 06-06-2026, 11:20 WIB
Pendaftaran Beasiswa PMDSU 2026 Resmi Dibuka untuk Mencetak Doktor Muda
Sabtu / 06-06-2026, 11:20 WIB
10 Ciri Pasangan yang Serius Membangun Masa Depan Bersamamu
Sabtu / 06-06-2026, 11:20 WIB
Bank Indonesia Perkuat Sinergi Fiskal-Moneter untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Sabtu / 06-06-2026, 11:20 WIB
Charles Barkley Prediksi Knicks Sapu Bersih Spurs Jika Menang Gim Kedua
Sabtu / 06-06-2026, 11:17 WIB
Review iPhone 17e Soft Pink: Desain Elegan dengan Beberapa Kompromi
Sabtu / 06-06-2026, 11:17 WIB
5 Tablet SIM Card Murah Terbaik untuk Hiburan dan Produktivitas
Sabtu / 06-06-2026, 11:16 WIB






