Harga rata-rata emas dunia diproyeksikan melonjak 43 persen hingga menyentuh US$ 4.920 per ons troi sepanjang tahun 2026.

Proyeksi tersebut dirilis oleh lembaga riset Metals Focus melalui laporan Gold Focus 2026.

>>> Arkeolog Temukan Permukiman Prasejarah Tertinggi di Pegunungan Pyrenees

Meskipun permintaan global diperkirakan menurun akibat berkurangnya pembelian perhiasan dan akumulasi aset bank sentral, nilai jual emas justru diprediksi tetap menguat dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Penurunan serapan pasar pada sektor perhiasan dan bank sentral diperkirakan bakal terimbangi oleh tingginya minat investor terhadap emas batangan serta koin.

Investasi Fisik Emas Melampaui Perhiasan

Direktur Gold and Silver Metals Focus, Matthew Piggott, menyatakan bahwa untuk pertama kalinya investasi fisik dalam bentuk emas batangan dan koin diperkirakan melampaui perhiasan sebagai komponen terbesar permintaan emas dunia.

Perubahan orientasi konsumen ini terlihat mencolok di Asia, khususnya China dan India.

Sepanjang tahun lalu, aktivitas investasi emas fisik di China tumbuh 28 persen, sementara di India naik 17 persen.

Piggott menambahkan bahwa faktor-faktor yang mendorong kenaikan emas pada 2025 masih tetap ada dan diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026 bahkan setelahnya.

Faktor penopang tersebut meliputi ketidakpastian kebijakan AS, kekhawatiran terhadap kinerja dolar AS, tingginya tensi geopolitik, serta valuasi bursa saham yang dinilai terlalu mahal.

Meskipun volume pembelian bersih bank sentral menyusut sekitar 22 persen menjadi 848 ton pada 2025, angka tersebut masih di atas rata-rata sebelum 2022.

>>> Dinas Pendidikan Jateng Rilis Jadwal Libur Sekolah Semester Genap 2026

Piggott menilai otoritas moneter masih memegang peranan strategis dalam menyokong stabilitas pasar global.

Di sisi lain, konflik bersenjata di Iran dan lonjakan harga energi global sempat menekan harga emas karena memicu kecemasan inflasi dan menipisnya peluang pemangkasan suku bunga AS.