Mata uang yuan Tiongkok menunjukkan kinerja solid sepanjang tahun 2026 dengan pergerakan yang terus menguat terhadap dolar AS maupun euro di pasar finansial global.

Ketangguhan mata uang Asia dengan performa terbaik ini diprediksi masih akan bertahan berdasarkan analisis dari lembaga keuangan Nordea.

>>> Saat Olahraga Berlebihan Mengancam Ginjal: Mengenal Rhabdomyolysis

Perkembangan positif pada sektor finansial ini berjalan beriringan dengan langkah pemerintah Uruguay yang melonggarkan regulasi masuk bagi warga negara Tiongkok.

Langkah Tiongkok memperkuat posisi ekonominya di pasar global tercermin dari statusnya sebagai mitra dagang utama dan pasar ekspor terbesar bagi Uruguay untuk sektor peternakan, infrastruktur, pertanian, serta pangan.

Analis Soroti Toleransi Kebijakan Bank Sentral

Analis dari Nordea, Kristian Nummelin, menyoroti ketangguhan nilai tukar mata uang domestik Tiongkok di tengah dinamika pasar global.

Menurutnya, otoritas moneter Tiongkok saat ini memberikan indikasi toleransi kebijakan terhadap apresiasi nilai tukar yang terjadi secara bertahap.

"Yuan Tiongkok telah berkinerja baik tahun ini, baik terhadap dolar AS maupun euro," ujar Nummelin.

Ia menjelaskan bahwa pergerakan pasangan mata uang USD/CNY di pasar valuta asing sangat dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan moneter antara kedua negara.

Faktor perbedaan suku bunga ini memegang peranan krusial sebagai motor penggerak utama di pasar.

"Diferensial suku bunga AS-Tiongkok adalah pendorong penting USD/CNY," kata Nummelin.

Lebih lanjut, pelebaran jarak imbal hasil obligasi antara AS dan Tiongkok juga dipicu oleh situasi geopolitik internasional.

>>> Timnas Oman Tumbang 0-3 dari Indonesia pada Debut Pelatih Tarik Sektioui

Meningkatnya tensi di beberapa kawasan strategis turut memberi dampak langsung pada pergerakan imbal hasil tersebut.

"Sejak konflik Iran dimulai, imbal hasil AS telah bergerak lebih tinggi, memperlebar spread imbal hasil terhadap Tiongkok," ujar Nummelin.