Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi tantangan struktural bagi emiten konsumer di tahun 2026.

Produsen barang konsumsi kini menyusun strategi untuk mempertahankan kinerja positif di tengah tekanan kurs.

>>> Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 118 FIFA Usai Kalahkan Oman 3-0

Berdasarkan data Trading Economics, rupiah telah terdepresiasi 8,20% year-to-date ke level Rp18.044 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026).

Lonjakan dolar AS ini memicu risiko pembengkakan biaya impor bahan baku dan penurunan daya beli masyarakat.

Unilever Pertimbangkan Penyesuaian Harga

Manajemen PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) menilai tekanan kurs membayangi prospek fundamental perseroan.

Direktur Utama Unilever Indonesia Benjie Yap menyebut segmen Home Care menjadi yang paling terdampak akibat kenaikan biaya.

Menurut Benjie, tekanan inflasi dari perang Iran-AS dan pelemahan rupiah baru akan terasa pada paruh kedua 2026.

Meski demikian, perseroan tetap fokus mendorong pertumbuhan volume penjualan melalui penetrasi pasar dan inovasi.

“Akan ada penyesuaian harga pada paruh kedua tahun ini, terutama di kategori Home Care,” ujar Benjie.

Direktur Keuangan Unilever Indonesia Neeraj Lal menambahkan langkah mitigasi meliputi penyesuaian harga, disiplin biaya, optimalisasi investasi, dan strategi hedging.

>>> 10 Kandidat Kuat Peraih Golden Ball Piala Dunia 2026

“Kami memiliki eksposur terhadap nilai tukar pada bahan baku, namun kegiatan ekspor membantu mengimbangi sebagian dampak,” jelas Neeraj.

Fokus utama Unilever tahun ini adalah pertumbuhan volume penjualan dan perbaikan margin yang moderat.

Mayora Andalkan Ekspor

Di sisi lain, PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) belum memandang pelemahan rupiah sebagai risiko fundamental.

Direktur Mayora Wardhana Atmadja menjelaskan sekitar 40% penjualan perseroan berasal dari ekspor, sehingga konversi pendapatan valas ke rupiah lebih tinggi.

“Kami mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. Itu yang membedakan Mayora dengan perusahaan FMCG lain,” kata Wardhana.

Meski sebagian bahan baku masih diimpor, kenaikan dolar membuat pengeluaran produksi dan pendapatan berimbang.

“Secara keseluruhan, dampaknya masih net-off. Kami bisa mengompensasi kenaikan harga bahan baku dengan keuntungan ekspor ke lebih dari 100 negara,” tambahnya.

MYOR tetap membidik target pertumbuhan penjualan 8,2% year-on-year menjadi Rp41,85 triliun dan laba bersih tumbuh 17,3% menjadi Rp3,41 triliun pada 2026.

>>> Timnas Indonesia Hancurkan Oman 3-0 dan Dongkrak Peringkat FIFA

Sentimen positif datang dari harga komoditas kopi dan cokelat yang melandai, serta perluasan jaringan distribusi domestik melalui kerja sama dengan Koperasi Desa Merah Putih.