"AI bukan manusia. Dia hanyalah sistem yang sangat canggih dan dirancang untuk membuat pengguna terus terkoneksi.

Jika seorang anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa AI adalah pengganti hubungan manusia, dia berisiko mengalami bentuk kesepian yang berbeda," jelasnya.

Dampak terhadap Keterampilan Sosial

Pola serupa juga mulai menjangkiti kelompok usia lebih tua. Survei Infobip tahun 2024 menunjukkan hampir 20 persen orang dewasa mengaku pernah menggoda chatbot AI.

Lebih dari 45 persen pria Gen Z belum pernah mengajak wanita berkencan secara tatap muka.

Velotta menekankan pentingnya interaksi nyata untuk melatih empati, negosiasi, dan manajemen konflik. "Hubungan di dunia nyata memang sulit.

Kadang canggung, bahkan memalukan. Namun dari situlah seseorang belajar memahami orang lain dan berkembang secara emosional," terangnya.

Ketergantungan pada kenyamanan AI tanpa risiko penolakan dikhawatirkan dapat mengikis kompetensi sosial dasar.

>>> Investor Asing Jual Saham Rp 4,1 Triliun Sepanjang Mei 2026

Kegagalan melewati fase interaksi nyata berpotensi menyulitkan generasi muda dalam kerja sama tim dan kesiapan menerima penolakan.