Velotta menambahkan, ketergantungan pada AI lebih dominan pada remaja laki-laki karena keterbatasan ruang bagi mereka untuk mengungkapkan emosi dibandingkan remaja perempuan.

>>> 10 Model Gelang Emas Motif Cincin Kecil yang Tren di 2026

Namun, ia mengingatkan agar teknologi ini digunakan secara bijak. "AI bukan manusia.

Dia hanyalah sistem yang sangat canggih dan dirancang untuk membuat pengguna terus terkoneksi.

Jika seorang anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa AI adalah pengganti hubungan manusia, dia berisiko mengalami bentuk kesepian yang berbeda," jelasnya.

Dampak pada Kemampuan Sosial

Pergeseran perilaku sosial akibat AI juga mulai terlihat pada kelompok usia lebih tua.

Data Infobip 2024 menunjukkan hampir 20 persen orang dewasa pernah melakukan flirting dengan chatbot AI, sementara 45 persen pria Gen Z belum pernah mengajak perempuan kencan secara tatap muka.

"Mengajak seseorang berkencan adalah tindakan yang penuh risiko. Taruhannya besar, dan banyak orang takut salah membaca situasi," ujar Velotta.

Padahal, interaksi nyata penting untuk melatih empati, negosiasi, toleransi, dan penyelesaian masalah emosional. "Hubungan di dunia nyata memang sulit.

Kadang canggung, bahkan memalukan. Namun dari situlah seseorang belajar memahami orang lain dan berkembang secara emosional," terangnya.

Velotta khawatir jika generasi muda terus menghindari risiko penolakan melalui kenyamanan semu AI, kemampuan sosial mereka akan terhambat.

>>> Skintific Rilis Dua Serum Spray untuk Atasi Masalah Kulit Berbeda

"Generasi yang melewatkan proses itu bukan hanya akan kesulitan mencintai dengan baik. Mereka juga bisa kesulitan bekerja sama, berkolaborasi, dan menerima penolakan dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya.