Kementerian Keuangan mencatat realisasi penarikan utang baru mencapai Rp 386 triliun hingga Mei 2026.

Jumlah tersebut setara dengan 46,4 persen dari target pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.

>>> BRI Hadirkan KPR dengan Bunga Mulai 1,75 Persen, Cicilan Lebih Ringan

Realisasi pembiayaan ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp 351 triliun. Mayoritas penarikan utang dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Selain utang, realisasi pembiayaan non-utang mencapai Rp 6,5 triliun hingga akhir Mei 2026.

Secara total, realisasi pembiayaan APBN saat ini mencapai Rp 379,4 triliun, atau 55,1 persen dari pagu anggaran.

Pasar Obligasi Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan proses pembiayaan anggaran berjalan normal di tengah ketidakpastian pasar global. Ia menekankan bahwa keseimbangan primer masih surplus Rp 58,6 triliun.

Purbaya menjelaskan bahwa pasar obligasi domestik relatif stabil karena tingginya minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN).

>>> Veda Ega Pratama Rebut Posisi Kedua Practice Moto3 Hongaria 2026

"Penggemar SUN kita masih cukup banyak dan tidak ada kehilangan kepercayaan," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Juni, Jumat (5/6/2026).

Stabilitas pasar tercermin dari pergerakan yield SUN tenor 10 tahun yang cenderung datar, dari 6,67 persen pada Mei menjadi sekitar 6,8 persen pada awal Juni 2026.

"Sekarang naik sedikit ke 6,8%, tetapi relatif stabil," kata Purbaya.

Indikator kepercayaan investor jangka panjang juga terlihat dari bid to cover ratio lelang SUN yang mencapai 1,8 kali, sedangkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,6 kali hingga Mei 2026.

>>> Astra Luncurkan Program Insan Astra Ayo Naik Transum Jakarta

Purbaya menambahkan, "Investor obligasi biasanya investor jangka panjang. Jika mereka masih masuk, artinya investor masih percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia."