Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan selama sepekan terakhir.

Kondisi ini dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid pada Jumat (5/6/2026).

>>> Cara Daftar Autodebet BPJS Kesehatan Lewat Mobile JKN

Pasar terus memantau situasi operasi militer Israel di Lebanon Selatan serta peluncuran rudal balistik Iran ke Kuwait dan Bahrain.

Konflik semakin memanas setelah pasukan AS melakukan serangan di Pulau Qeshm Iran yang dekat Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga komoditas pada data PMI non-manufaktur AS turut memicu ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan kebijakan moneter ketat.

"Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Di dalam negeri, kekhawatiran pasar terhadap risiko defisit fiskal mendekati 3% akibat tingginya harga minyak mentah turut menekan rupiah.

Lonjakan biaya impor minyak membuat surplus perdagangan April 2026 merosot tajam menjadi US$ 89,1 juta dari sebelumnya US$ 3,32 miliar pada Maret 2026.

Inflasi Mei pun merangkak naik ke level 3,08%.

>>> IHSG Jatuh ke Level Terendah Sejak 2020 Akibat Tekanan Saham Big Banks

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh langkah Moody's Ratings yang memberikan peringkat pertama Baa2 dengan outlook negatif bagi PT Danantara Investment Management.

Proyeksi pergerakan nilai tukar untuk sepekan ke depan diperkirakan masih dibayangi keperkasaan dolar AS. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam menghadapi ketidakpastian global.

"Perkembangan geopolitik global dan pergerakan harga energi masih menjadi sentimen yang perlu diperhatikan pasar," ujar Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.