Industri karoseri dalam negeri menghadapi ancaman serius akibat serbuan truk impor asal China yang langsung digunakan di sektor pertambangan Indonesia.

Kondisi ini menyebabkan penurunan drastis volume pemesanan modifikasi bak truk dari dealer lokal.

>>> Defisit APBN per Mei 2026 Tembus Rp 180,4 Triliun, Melonjak 763%

Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), Syarifuddin Tangka, mengungkapkan bahwa permintaan bulanan yang biasanya mencapai 30 hingga 50 unit kini hampir tidak ada.

"Ini yang betul-betul mematikan kustomer kami yang ada di ATPM (dealer), yang sebelumnya biasa order 30 sampai 50 per bulan, ini tidak ada lagi.

Paling ada, sisa 1-2," ujarnya di Karawang.

Syarifuddin menjelaskan situasi sulit ini telah berlangsung selama dua hingga tiga tahun terakhir.

Truk-truk dari China didatangkan dalam bentuk kendaraan utuh yang sudah dilengkapi bak dump, sehingga melewati proses pengerjaan di karoseri lokal.

"Mereka (truk-truk China itu) datang itu sudah lengkap dengan dump-nya (baknya), sehingga jangan berhitung TKDN-nya. Kita dipaksa untuk mengarah ke TKDN, mereka datang sudah langsung dengan dump-nya.

Jadi complete vehicle datang, impor, langsung terpakai di tambang," tegas Syarifuddin.

Ia menilai regulasi yang diterapkan pemerintah tidak adil karena industri lokal diwajibkan mematuhi berbagai aturan ketat, termasuk standar emisi dan dimensi.

Sementara itu, kendaraan impor dinilai bebas beroperasi di area tambang tanpa pemenuhan aturan serupa.

>>> Fenomena Fans K-Pop Jadi Inspirasi Serial Netflix Baru, Ini Ceritanya

"Kita dibatasi dengan aturan, ada aturan ODOL yang harus kita patuhi.

Sementara mobil-mobil (truk) impor ini (dari sisi emisi) ada yang masih Euro2, Euro3, (sementara) kita dipaksakan Euro4 dengan teknologinya kita.