Founder Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, menambahkan pentingnya dukungan infrastruktur. "Mereka punya peran untuk mengerahkan armada kebersihan.

>>> Telkom Luncurkan AIcosystem, Satukan Kapabilitas AI untuk Industri dan Masyarakat

Biayanya tidak seberapa, tapi kesannya bagus," ujarnya.

Edukasi kepada penonton juga tidak kalah penting. Menurut Sigit, jika penonton sudah paham dampak konser terhadap lingkungan, biaya mitigasi tidak akan terasa berat.

Penelitian Hak Jun-song dkk (2012) menunjukkan bahwa pengunjung yang sadar lingkungan lebih cenderung memilih produk dan layanan yang ramah lingkungan.

Salah satu alternatif adalah pembelian kredit karbon.

Studi Marie Connolly dkk (2016) menyebut biaya kompensasi karbon hanya menambah sekitar satu persen harga tiket, yang tidak menghalangi penonton.

Makassar International Writers Festival (MIWF) pada 2024 mencatat emisi 17 ton CO2e dan mengkompensasinya dengan menanam 335 pohon mangrove.

Revie menekankan bahwa konser ramah lingkungan sangat potensial. "Penonton anak muda semakin peduli isu lingkungan.

Bagi sponsor, konsep ini menarik karena sejalan dengan agenda sustainability," katanya.

Namun, biaya awal memang tidak murah. Jika dibebankan sepenuhnya ke penonton, daya beli bisa menurun.

Solusinya adalah kerja kolektif antara promotor, sponsor, vendor, dan pemerintah, misalnya melalui integrasi transportasi umum.

Dengan kesadaran yang mulai tumbuh dan inisiatif yang ada, konser ramah lingkungan di Indonesia bukan lagi angan-angan.

>>> Indro Rilis Lagu Dan Aku Rindu, Ungkap Kerinduan pada Personel Warkop

Tinggal menanti aksi nyata pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menentukan standar dan masa depan industri konser yang berkelanjutan.