PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mematangkan rencana penerbitan surat utang dalam mata uang asing. Nilai pokok notes tersebut mencapai US$900 juta atau setara Rp15,10 triliun.

Langkah ini bertujuan untuk menyegarkan struktur keuangan perusahaan.

>>> Syarat dan Alur Cabut Gigi Pakai BPJS Kesehatan, Ini Ketentuannya

Dana yang dihimpun akan diprioritaskan untuk melunasi utang jatuh tempo, melakukan pembayaran dipercepat atas pinjaman, serta mendukung rencana ekspansi usaha.

Berdasarkan keterbukaan informasi, nilai penerbitan notes mencapai 118,7% dari ekuitas perusahaan per akhir 2025 yang sebesar Rp12,73 triliun.

Karena nilainya besar, aksi korporasi ini masuk kategori transaksi material dan membutuhkan restu pemegang saham melalui RUPS pada 9 Juni 2026.

Corporate Secretary TBIG Helmy Yusman Santoso menjelaskan bahwa penerbitan akan dilakukan secara fleksibel, baik bertahap maupun sekaligus.

"Rencana penerbitan notes oleh perseroan dalam mata uang asing dengan jumlah pokok keseluruhan sebanyak-banyaknya setara dengan US$900 juta akan dilaksanakan dalam satu atau beberapa kali penerbitan dalam jangka waktu 12 bulan sejak diperolehnya persetujuan RUPS," ujarnya.

Surat utang internasional ini akan ditawarkan secara terbatas kepada investor awal. Manajemen menargetkan tenor maksimal hingga 10 tahun dengan tingkat bunga tetap paling tinggi 8% per tahun.

Setelah diterbitkan, notes akan dicatatkan di Bursa Efek Singapura.

Kondisi Keuangan dan Mitigasi Risiko

Hingga akhir Desember 2025, total kewajiban utang TBIG dan entitas anak mencapai Rp30,73 triliun.

>>> Rencana Tarif Tambahan Trump Dikritik Ahli dan Organisasi HAM

Di sisi lain, perseroan mengantongi pendapatan kontraktual yang masih akan diterima dari pelanggan senilai Rp35,7 triliun.

Manajemen menilai posisi keuangan tersebut memberikan ruang gerak yang sehat. Neraca yang kokoh diyakini mampu menjaga fleksibilitas pendanaan dan memastikan pengelolaan kewajiban finansial tetap terkendali.